MAHKOTA DIRI
Cukup prihatin secara pribadi tentang problematika kehidupan sekarang ini, terlebih anak-anak perempuan. Entah karena memang tidak sezaman atau memang tidak sepemahaman, yang jelas gaya hidup yang begitu mencolok sangat terlihat mulai dari cara berpenampilan, maupun berpakaian. Semuanya terlihat begitu apik untuk dikagumi mata, apalagi gender yang tidak sama. Bahkan untuk anak-anak tingkat SMP pun tidak mau kalah dengan segala gaya yang sebenarnya tidak untuk seusianya. Bahkan sangat kurang bisa menempatkan diri saja menurut saya pribadi, di sekolah yang seharusnya menjadi wadah untuk bersaing prestasi menjadi ajang untuk tampil diri.
Ngomong-ngomong soal tampil diri, secara pribadi saya menganggap bahwa keindahan yang hanya bersifat mata akan segera pudar dan bosan. Maka sebenarnya untuk tampil modis, dan keren bukanlah prioritas utama yang patut kita kejar. Okelah jika beberapa dari kita beranggapan bahwa itu termasuk investasi tubuh. Tapi yang lebih penting daripada berfikir tentang menghabiskan banyak uang untuk sesuatu yang hanya akan dikagumi dalam waktu sesaat, lebih baik membangun mahkota pengetahuan di dalam kepala kita. Itu adalah sebuah kerajaan yang sangat kokoh bagi seorang manusia yang hanya diberikan oleh Allah kepada masing-masing dari kita sebagai makhluk sempurna. Sebuah mahkota tanpa mengikrarkan diri bahwa kamu adalah seorang raja. Raja untuk kehidupanmu sendiri, yang bisa bertahan hidup dimanapun kamu berada, membentuk pribadi yang patut untuk disegani.
Semakin seseorang memiliki intelegensi yang tinggi, dia akan semakin berpenampilan sederhana dan berfikir terbuka. Sebuah mahkota yang menjadikan ia bisa lebih percaya diri dengan siapapun dia bersama. Persaingan seperti ini sangat jarang sekali untuk ditemui di lingkungan akademisi. Perpustakaan yang menjadi sumber dari sebuah pengetahuan bagaikan kuburan yang sangat hening untuk dikunjungi. Minat membaca tidak lagi menjadi candu bagi kebanyakan diri kita yang ingin diterima ide-ide pemikirannya. Padahal dari membaca kita akan mampu menjelajahi dunia, belajar menjelajahi perasaan manusia, dan memahami kehidupan dengan berbagai sudut pandang.
Manusia termasuk saya saat ini sangat lemah untuk bersaing dalam prestasi, terlalu banyak bicara sebelum memahami, dan terlalu percaya diri padahal sangat tidak tahu diri. Sejatinya kita manusia adalah makhluk yang begitu istimewa, perbedaan kita dengan binatang adalah pada akal yang Allah berikan, hanya saja akal manusia kemudian semakin tumpul akibat terlalu jumawa untuk lagi mau membaca. Padahal dari membacalah akal manusia menerima asupan. Fisik manusia akan memudar seiring bertambahnya usia, namun buah dari pemikiran yang terdidik akan tetap bersinar sepanjang masa.
Komentar
Posting Komentar