PERSPEKTIF


            Sore ini suasana terlihat sangat sendu sekali, matahari yang enggan menampakkan diri sedari pagi, pun hujan tidak segera kunjung turun. Tiba-tiba saja aku ingin menulis tentang perspektif kala fikiranku berkelana pada penilaian setiap manusia ketika dihadapkan pada suatu hal. bagaimana kemudian seperti seseorang ketika disajikan pada satu sajian makanan dan minuman. Manusia akan dengan lebih cepat segera menilai pertama dari bagaimana makanan atau minuman itu disajikan, warna tampak pucat, kurang menarik, bagus, tapi seharusnya ini perlu dikasih ini, ini perlu ditambah ini. Ada pula seseorang yang tanpa menilai langsung kemudian menikmatinya. Jika ia menyukainya dengan senang hati seseorang akan menghabiskannya, begitu pula ketika seseorang tidak menyukainya rasanya, mungkin ada seseorang memilih untuk tidak kemudian meminumnya, ada juga seseorang yang kemudian mencela makanannya, mencela pembuatnya, mencela seseorang yang menyajikannya. ini adalah secuil kisah dari bagaimana kehidupan memberikan pembelajaran kepada kita untuk sejenak berfikir, apakah yang akan menjadi sikap dan penilaian kita ketika dihadapkan dengan masalah yang sama. Tindakan apa yang akan keluar pertama kali dari dalam diri kita dalam menilai suatu hal. Perspektif manusia begitu kompleks, hingga kebanyakan dari kita merasa bahwa perspektif diri sendirilah yang paling benar. Padahal dalam menilai, kembali kepada makanan dan minuman, kita juga perlu memahami jangan-jangan yang membuat makanan masih pertama bekerja, jangan-jangan itu adalah bentuk sebuah kegugupan, keterburu-buruan dan sebagainya. Terkadang kita sebagai manusia terlalu dengan mudah melontarkan kalimat yang menjatuhkan, mendiskriminasi, mengintimidasi, dan lain sebagainya. Kenapa kemudian kita tidak belajar untuk lebih memahami, memberikan motivasi, memberikan semangat dan kalimat-kalimat yang positif?!. 

             Saya teringat nasihat Kyai saya tentang suatu maqolah, "Kalau  tidak bisa menyenangkan saya, jangan mengecewakan saya", dari kalimat ini ternyata kemudian bisa kita sajikan dalam berbagai aspek kehidupan, jangan mencela makanan kalau tidak suka, cukup kamu jangan memakannya. Jangan mencela orang lain kalau kamu tidak bisa memposisikan dirimu sama seperti dirinya, cukup jangan ditiru dan perbaiki kualitas diri, tulislah yang bermanfaat, atau tidak usah menulis, bicaralah yang baik, atau diam. Begitulah sedikit sajian dari secuil maqolah yang singkat, tetapi sangat bermakna menurut saya. Suatu perspektif akan melahirkan suatu tindakan, dan tindakan tersebutlah kemudian yang akan menunjukkan kualitas diri seseorang. Ini tidak hanya sebatas pada penilaian manusia, tapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana kemudian Allah menilai diri kita sebagai manusia. "Sesungguhnya setiap , pendengaran, penglihatan dan bisikan hati akan dpertanggung jawabkan" (QS. Al Isra':36). Terlepas dari ini semua, manusia tetaplah akan hidup dengan perspektif yang dimilikinya, bukan berarti saya adalah manusia dengan perspektif yang selalu benar, tetapi tentang bagaimana kemudian kita lebih belajar untuk meningkatkan kualitas diri dengan sebuah tindakan yang lebih bijak ketika dihadapkan pada suatu hal yang mungkin kita memiliki perspektif tidak baik terhadapnya.



        

Komentar

Postingan Populer