UNGKAPAN RASA UNTUK TIDAK PERLU DIRASA

 Aku benar-benar kecewa, meski pada kenyataannya banyak orang yang lebih terluka dibanding dengan kehidupan saya pribadi. Aku tidak menyangka akan menemui lelaki yang seperti itu dalam kehidupanku. Sejak lama aku mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia pernikahan dengan bekal ilmu,nyatanya tidak memberikan cukup bekal untuk mampu melalui badai rumah tangga hingga akhir.  Meskipun begitu, aku tidak mau saling membenci dan memusuhi, karena biar bagaimanapun kita pernah hidup bersama hingga melahirkan seorang anak yang tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Jikapun memang sangat membenci saya pribadi, kenapa lelaki yang seharusnya menjadi ayah yang memperhatikan,menyayangi, menafkahi,menjadi tempat untuk bersandar bagi seorang anak justru menjadi orang yang benar-benar tidak peduli. Jalan fikiran seperti apa yang sebenarnya ada di kepalanya?!. 

Jika mengingat momen momen yang menyakitkan kembali,benar-benar menyiksa, apa yang salah, jikapun aku salah,kenapa tidak diluruskan dan dibicarakan?!, memang seburuk itukah aku sebagai seorang perempuan hingga diperlakukan seperti itu?!. Sejak mulai menikah aku tidak pernah menuntut mahar,setelah menikahpun aku tidak pernah menuntut sesuatu yang besar,tidak pernah membentak bahkan aku selalu berusaha untuk menjaga diri dari berkata yang tidak pantas, berusaha diri untuk tidak mengecewakan. Nyatanya aku yang berkali-kali terluka.

Aku tidak tahu benang merah antara kesabaran dan kebodohan,yang jelas aku hanya mengupayakan diri untuk meraih kebahagiaan dunia akhirat. 

Bahkan aku tidak bisa berkata-kata dengan caranya memperlakukan buah hatinya, sejatinya saya sebagai seorang ibu akan tetap memperjuangkan kehidupannya sebaik yang saya mampu. Biar Allah yang mengatur hidup anak turunku, tugasku hanya memperjuangkan kehidupannya, mendidik,dan mendoakan yang terbaik untuknya. 

Sebagai seorang manusia, saya telah berusaha keras untuk bertahan dan memperbaiki, bersabar sesabar yang saya mampu. Dan saya meyakini bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lilalamin, derajat perempuan dikunjungi tinggi dengan datangnya Islam. Sementara, saya tidak mau dan tidak mampu lagi hidup dengan seseorang yang menyiksa batin saya, dengan dalih pernikahan. Saya merasa terzolimi, dalam pernikahan ini. maka jika pernikahan itu tidak dapat diharapkan lagi menjadi jalan menuju kepada Allah, saya memilih untuk mundur dan memperbaiki diri lagi untuk perjalanan hidup yang masih panjang ini. 

Saya khawatir rasa sakit yang bertubi-tubi akhirnya merusak mental dan kesehatan saya, hingga mungkin malaikat akan mencatat saya sebagai orang yang dzolim terhadap diri sendiri. Pun, ketika saya bertahan dengan rasa sakit, saya akan kehilangan arah dalam melayani dan menghormati seorang suami. Mungkin alasan ini tidak bisa diterima oleh beberapa orang, dan memang sebuah rasa itu sulit untuk diutarakan,  karena ini tentang rasa yang telah meracuni diri sendiri, tanpa orang tahu yang sebenarnya rasa itu. 

Komentar

Postingan Populer