ISLAM RAHMATAN LIL ALAMIN UNTUK WANITA DALAM KEHIDUPAN RUMAH TANGGA
Berbicara tentang seorang wanita dengan Islam mengingatkan saya tentang bagaimana posisi wanita sangat lemah dan hina di zaman jahiliyah. Sampai kemudian Allah mendatangkan Nabi Muhammad dengan ajaran yang memberikan angin segar bagi para wanita. Derajat wanita tidak lagi hina, semua memiliki hak yang sama dengan laki-laki, yaitu menjadi manusia yang terhormat dan tidak patut untuk direndahkan. Bahkan di dalam Islam, seorang wanita diberikan ruang istimewa dibanding laki-laki. Beberapa ayat seperti Al Luqman:14-15,QS. AL Ahqaf: 15, dan hadits misalnya, seperti “Sesungguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan sungguh bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atasnya. Bila engkau ingin meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau ingin bersenang-senang dengannya, engkau bisa bersenang-senang namun padanya ada kebengkokan.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim].
Kedudukan seorang wanita tidak dapat dianggap remeh, bahkan dari seorang wanitalah generasi bangsa dan agama lahir dan terdidik. Pengorbanan dan perjuangan seorang wanita dalam kehidupan rumah tangga begitu krusial. Maka tidak heran jika Nabi pernah berpesan tentang ibumu,ibumu kemudian ibumu. Tidak hanya sebatas tentang anak, bahkan para wanita dengan kerelaan hati selalu berusaha melayani, membantu suami dengan sebaik yang mereka mampu. Sekalipun manusia pada kenyataannya memiliki karakter yang tidak sama, tapi bisa disepakati bahwa wanita pada umumnya selalu mempersembahkan yang terbaik untuk keluarganya.
Beberapa pemikiran sempat terlintas dalam pikiran saya tentang sebuah keadilan bagi seorang wanita. Jika Islam datang dengan membawa kebahagiaan bagi kaum wanita khususnya, namun di zaman seperti ini saya jumpai sebuah pernikahan justru menjadi petaka dan kehidupan bak neraka bagi para wanita jika menemukan lelaki yang salah. Dengan dalih pernikahan para laki-laki memposisikan wanita hanya seperti budak. Dengan terang-terangan mereka mengabaikan kewajibannya dalam memberi nafkah lahir dan batin. Kekerasan psikis, fisik, seksual, penghianatan, penelantaran, dan lain sebagainya, selalu menggema di telinga setiap waktu. Sementara wanita, mereka dituntut untuk menjadi wanita yang tidak boleh membantah perintah suami, apapun itu sekalipun terkadang sangat berat untuk dijalankan. Mungkinkah Islam memerintahkan wanita untuk terus bersabar hingga akhir hayatnya?!!, kesabaran yang bagaimana yang Islam kehendaki?!. Terkadang saya berfikir keras, tentang bagaimana saya harus mampu membedakan arti sabar dan bodoh dalam sebuah pernikahan.
Tidak, tidak mungkin Islam bersikap seperti itu, menurut saya pribadi tidak ada sebuah kesabaran kala seseorang memperlakukan diri dengan kedzaliman, bersikap abai terhadap hak-hak diri setelah kewajiban ditunaikan. Tidak mungkin Islam memerintahkan seseorang untuk bertahan dengan dalih iming-iming surga, sementara manusia diberi akal untuk mencari jalan keluar di tengan kondisi yang menyakitkan. Tidak mungkin Islam memerintahkan untuk bersabar sementara jiwa dan raga dirasa tidak mampu lagi untuk bertahan. bukankah setiap diri adalah amanah yang harus dijaga?!. di jaga dari hal-hal yang mengancam dan menyakitkan contohnya. Bagaimana mungkin surga bisa diraih untuk wanita yang berputus asa dengan rumah tangganya, dan tidak bahagia?!, bukankah sebagai orang Islam kita harus selalu menunjukkan hati yang berseri-seri dan menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur?!. Ibadah yang panjang harus diiringi hati yang tenang, ikhlas dan bahagia kalaupun bisa. Islam tidak pernah merendahkan derajad wanita di dalam sebuah pernikahan, jikapun seorang wanita merasa merasa tertindas baik lahir maupun batin, bukankah dalam hal ini sebagai manusia yang diberikan akal mampu mengambil keputusan sesuai logika yang dimilikinya?!. Wallahua'lam,,, sejatinya manusia hanya mampu mengupayakan dirinya untuk meraih kebahagiaan untuk dunia dan akhiratnya.

Komentar
Posting Komentar