MEMAKNAI ARTI BERSERAH


   "Tidak apa-apa ya Allah,aku ikhlas" mungkin memang benar itu yang kita ucapkan kala berada pada situasi yang tidak kita harapkan. Namun,seberapa ikhlas kalimat itu menancap kuat dalam hati kita dan akhirnya teraktualisasi dalam perilaku yang sesungguhnya?!. Selama ini manusia sering kali terlalu pandai pada retorika namun begitu lemah dalam jiwanya. Mental,psikologis merupakan bagian dari manusia itu sendiri,melekat tidak mampu dipisahkan,akan mati bersama dengan terkuburnya jasad manusia,itulah opini saya. 

Mental manusia sangat rapuh, tidak semudah yang kita pelajari. Setiap manusia memiliki rongga dan akar yang tidak sama, setiap orangpun akan memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi apa yang datang dalam kehidupannya. Apa yang kita pandang salah,belum tentu sama dengan apa yang mereka yakini, begitu pula sebaliknya. Terkadang kita menuntut orang lain untuk memiliki porsi yang sama dengan diri kita dalam menyikapi setiap masalah, nyatanya apa yang kita lakukan juga belum tentu diterima baik oleh orang lain.

Lantas bagaimana dalam hal ini ikhlas dan sabar harus berjalan sesuai dengan keinginan Tuhan,sementara porsi dari masing-masing manusia tidaklah sama?!. Itulah yang sekarang ini saya khawatirkan, kita tidak pernah tahu akan bermuara ke mana diri kita kala menyikapi setiap masalah dengan cara kita sendiri sebagai manusia yang berakal. Ridho Allah ataukah fatamorgana akal yang mudah sekali untuk dijerumuskan.  Sebagai manusia kita hanya mampu untuk menyadari akan kelemahan-kelemahan yang ada, tidak mampu menjadi sempurna, sekalipun telah berusaha sekuat tenaga, nyatanya celah untuk melakukan kecacatan tetaplah ada. 

Pengharapan kepada Tuhan adalah jalan terbaik sebagai seorang yang fakir dan tidak pernah lelah untuk meminta. Kesabaran dan keikhlasan adalah hal yang begitu rumit  bagi hati manusia, karena memang manusia sangat dangkal dalam mewujudkannya. Berulang kali, sampai kapan lagi kita belajar akan makna dari sabar dan ikhlas yang sesungguhnya. Sementara saya sendiri adalah orang yang merasa telah sabar dan ikhlas, namun apakah kesabaran dan keikhlasan dalam penilaian saya ini sudah lurus atau terjerumus.

Saya memakai bahwa takdir yang Tuhan berikan kepada manusia begitu indah, terlepas dari benar atau salah, kehidupan masing-masing dari manusia adalah sebuah pembelajaran yang besar. Tuhan menganugerahi akal sebagai solusi untuk mencari jalan terbaik, dalam hal ini sebagai manusia beriman adalah kita tidak boleh menyalahi aturan agama. Bebaslah, memilihlah jalan terbaik yang menurut akalmu sesuai dengan rambu-rambu akidah. Tuhan tidak pernah membelenggu dan menyiksa manusia dengan alasan takdir, sementara manusia dianugerahi akal untuk mencari jalan keluar. 

Komentar

Postingan Populer