CATATAN KATA YANG TERSIMPAN
Kalimat di bawah ini kutemukan kala kembali kubuka file di notebook ku kala ini tanggal 8 Juni 2024. Sementara tulisan di bawah ini tertulis tanggal 27 Maret 2018 tepat di ulang tahunku ke 24. hmhmhmh,,, aku menggumam dalam batin tentang kenyataan hati yang sekarang aku alami.
Pernikahan, sebuah kata
yang mungkin adalah sesuatu yang sangat aku benci pada masa lalu. Yah, mungkin
karena usia yang belum waktunya. Namun seiring bertambahnya usia, seakan adalah
sebuah cita bagi yang telah menginjak usia dewasa. 24 tahun, tepat pada hari
ini 27 maret 2018. Aku menjalani kehidupan sendiri sebagai seorang gadis, asing
dengan seorang lelaki yang mendampingi, yah,, terkecuali ayah..!!! lelaki yang
sangat mencintai diri dengan setulus hati dan selembut pipi.
Kerinduan pada sosok
lelaki yang mau membelai dan menemani kemanapun pergi selalu menghantui,
apalagi sejak skripsi hampir selesai. Emang mau apalagi,,,?! Dunia seakan malam
dengan kesunyiannya, siang dengan terik panasnya. Tak nyamanlah, begitu maksud
dariku.
Bagaimana perasaanmu,
bila sunyi kemudian pecah menjadi nyanyi, dan panas berkibas menjadi sejuk
pelangi?! Itulah yang mungkin aku rasakan saat ini, bagaimana tidak?! Setelah
23 tahun memutuskan untuk menjomblo, status itu sebentar lagi mulai terlepas
dari namaku. Iya, aku akan menikah. Tepat pada 11 april 2018.
Ah, tapi bila aku boleh
jujur padamu. Ada kalut pada langit, ada takut di pojok salut, ada khawatir di
selip mekar. Iya, itulah yang ada juga dalam dada. Bagaimana mungkin?! Iya, aku
akan bercerita padamu. Ya sebuah cerita yang sederhana sih, tak terlalu puitis,
tapi sepertinya asyik juga untuk menemanimu di pojok kebosanan dengan
kesendirian.hehehe
Kau tahu, bagaimana
gejolak seorang gadis di jaman seperti ini?! Ya, begu pula dengan diriku.
Tarikan kuat untuk mendekati lelaki yang diingini itu selalu ada, menunggu
pesan rindu dan kata perhatian dan begitulah semua tentang pernak pernik
menjalin cinta. Tapi keinginanku itu tercegah oleh dalam diriku. Sehingga tak
mau, lagi-lagi aku tak mampu untuk mewujudkan keinginan akan itu. Akhirnya
menjomblolah aku sampai segini usiaku.
Sampai pada akhirnya,
keinginan untuk menikah itu ada, meski tak sekuat baja. Kusindir-sindir orang
tua, hehe kalau aku gak bisa cari namanya pendamping raga. Emang ya, kalau
namanya bukan jodoh, ada aja alasan untuk tidak bisa bersama. Aku mau, dianya
tidak mau. Dianya mau, akunya tak mau, kitanya mau, orang tuanya tak mau.hahaha
Sampai pada akhirnya,
doa dan tirakatku untuk bisa bertemu tembus juga pada seorang lelaki. Siapa
dia? Dia adalah yang akan jadi Imamku. Tapi sayangnya, aku tak mengenalnya, dia
juga tak mengenalku. Saat pertama bertemu adalah ketika dia berkunjung ke
rumahku, dan akulah pembuka pintu itu. Wau..?! pertemua sesingkat mata
berkedip, sudah itu. Tak ada lagi perjumpaan setelah itu, sampai esok janji
surga mengggema di mushola, iya ijab qobul maksudnya.
Bagaimana aku bisa
yakin padanya?! Bagaimana aku bisa mengiyakannya?! Apakah aku mengalami Jatuh
cinta pada pandaNgan pertama?!. Ah, sayangnya ini bukan ftv dengan
keromantisannya. Semua mengalir begitu saja, tak yakin padanya aku sebenarnya,
tak ada namanya jatuh cinta pada pandangan pertama. Aku ditanya keluarga,
bagaimana menurutmu? Apakah kamu mau?!. Aku kembali bertanya, “Bagaimana
menurut kalian?!”. “kita cocok (ayah, ibu, dan kakak)”. “Kalau begitu aku juga
cocok|”. Sampai jawaban itu mengundang jengkel kakakku.hehehe tapi yah mau
gimana, tak ada gejolak yang bagaimana dalam dada. Netral menerima begitu saja.
Karena aku yakin, tinta telah mengering, dan pena telah diangkat. Segala yang
ditakdirkan pasti terjadi, apa yang tidak ditakdirkan tak akan mungkin terjadi.
Begitulah sederhanaku dalam berfikir.
Ketakutan pastilah ada,
namanya mau bersanding dengan lelaki asing, apalagi untuk sepanjang hidup.
Wuuuhhh,,, gejolak nafsu mengajakku untuk menggila. Tak tahulah aku dia orang
yang bagaimana dan seperti apa?!. Selalu kata “jangan-jangan” berbisik dalam
setiap tempat dan waktu. Tapi, itu tidak boleh terjadi. Saat kuadukan pada
ibuku,akan rasa takutku,,, jawaban sederhana mulai menenangkanku. “Dialah
lelaki yang telah Allah pilihkan untukmu, kita semua hanyalah perantara. Kalau
esok kamu bahagia, berterima kasihlah pada Allah. Kalau kau temui tidak
enaknya, mengadulah sama Allah”. Whauuu…!!! Keimanan sepertinya mulai lari dari
diriku.
Maka, kujadikan hatiku
sebagai nasihat kecilku dalam setiap waktu. Bahwa, bukan bahagia bersama
makhluk yang kau cari, bukan cinta makhluk yang kau cari, bukan kekayaan dunia
yang kau cari, bukan kedudukan dan kebanggaan tahta yang kau cari, melainkan
hanya Dia. Sudah cukup. Kau harus siap dengan segala derita, asal Dia yang
memilihkan derita.
Ah, aku ini siapa
dengan kepuitisan kata. Tapi, tak ada salahnya bukan, bila manusia biasa
mengharapkan cinta yang luar biasa…??!! Karena sejatinya, bukan yang ada di samping
diri yang membuat diri bisa bernyanyi dan menari, melainkan apa yang
tersembunyi dalam ladang yang penuh misteri. Ya, apalagi kalau buka hati…??!!
Komentar
Posting Komentar