RUMAHKU ADALAH PERSINGGAHAN MENUJU SURGA
Bagaimana seseorang mendefinisikan akan rumah, tentu beberapa akan memberikan definisi yang tidak sama. Tapi secara pribadi, rumah bagi saya tidak hanya sekedar persinggahan fisik untuk beristirahat dan tempat pulang ketika seseorang pergi. Bekerja sepanjang waktu, berkelana kemanapun, sampai kemudian rumah menjadi tempat yang paling nyaman untuk melepas lelah, menjadi tempat yang menjadikan diri bisa menjadi pribadi tanpa tekanan dari siapapun. Rasa aman bagi batin manusia yang penuh dengan masalah hidup. Menerima keadaan diri dalam keadaan apapun itu, bahagia, sedih, marah, dan segala bentuk rasa yang bergejolak di dalam dada manusia. Rumah adalah sebuah hal yang sangat mengesankan.
Rumah tidak hanya sebuah bangunan yang beratap dan berdinding, lebih dari itu rumah adalah sebuah kenyamanan tidak sekedar fisik melainkan batin manusia. Ya, rumah adalah sebuah metafora dari keluarga yang penuh dengan kehangatan. Saling menyayangi, mengasihi, berbagi kebahagiaan, kepeduliaan dan segala hal tentangnya. Perselisihan hanya sekedar bumbu kehidupan dan segera hilang, sepenuhnya adalah kenikmatan tentang arti bahagia. Bahagia manusia tidak mampu diukur dan dibeli oleh materi, sekalipun manusia tidak terlepas dari ujian hidup, nyatanya dengan adanya keluarga semua bisa dilalui, tanpa saling melukai, dan memusuhi hanya untuk keegoisan diri.
Saya sangat bersyukur, dan ingat betul akan memori-memori indah dimasa kecil kala itu. Keluarga yang sangat sederhana, tapi telah menciptakan kenangan indah yang abadi hingga aku nanti mati. Ayah saya yang merupakan sosok begitu sabar dan peduli kepada istri mengajarkan arti sebuah cinta kasih dan ketulusan tanpa rasa kuasa dan mudah menghakimi, dalam istilah Jawa bisa dikatakan "ngemong". Humoris dan mendidik, tegas dalam beberapa hal, adalah bentuk ketegasan sebagai seorang kepala rumah tangga. Ibu adalah wanita yang begitu menerima segala bentuk kekurangan pasangan dengan penuh keikhlasan demi mencari keridhoan Illahi.
Dalam segala hal, kedua orang tua saya selalu mengalah demi anak-anaknya. Bahkan dalam hal makanan, terkadang mereka rela untuk menyisipkan makanan di sakunya demi pulang memberikan oleh-oleh kepada buah hatinya. Mengayuh sepeda dengan keringat dan nafas yang tersenggal-senggal karena membonceng anaknya kala pulang sekolah. JIka teringat akan hal-hal seperti ini, saya selalu berharap, andai waktu dapat diputar kembali, saya ingin kembali ke masa itu, dan tidak ingin melanjutkannya. Kakak dan adik saya pun adalah pribadi dengan keistimewaan yang mereka miliki. Kakak saya adalah seorang perempuan yang sangat menyayangi adik-adiknya dengan penuh kasih sayang tanpa pengharapan. Terkadang saya sendiri malu karena bisa dibilang tidak tahu diri.
Banyak memori indah yang tentu tidak akan mampu saya ungkapkan dalam tulisan ini, mungkin hanya akan menjadi keindahan yang tumbuh bersemi dalam memori waktu yang saya miliki. Saya adalah seorang anak, seorang saudara yang sangat bersyukur telah tumbuh dan menjadi bagian dari mereka. Saya berharap, dikehidupan saat ini dan akan datang, saya bisa menjadi rumah bagi anak-anak saya, dan berkumpul kembali dalam sebuah telaga suci di kehidupan yang abadi. Rumah tidak hanya tentang kebahagiaan hidup di dunia, melainkan bagaimana saling mengulurkan tangan untuk menuju surga bersama.

Komentar
Posting Komentar