SUMAYYAH SAHABAT NABI WANITA BERHATI BAJA
SUMAYYAH WANITA BERHATI BAJA
Kembali kepada zaman dimana Islam
bermula, zaman masih terjadinya perbudakan antar sesama manusia. Sebuah tempat
yang dikenal sangat tandus, panas bila siang hari, dingin bila malam tiba,
adalah tempat disitu Islam dikenal dan diikuti oleh manusia diseluruh penjuru
dunia. Saat itu, ketika manusia paling mulia Rasulullah saw diawal dakwahnya
sebagai seorang rasul, mulai memperkenalkan Islam kepada orang-orang di
sekitar, dengan cara sembunyi-sembunyi, dari satu rumah ke rumah yang lain,
dari satu hati ke hati yang lain. Hingga kabar itu akhirnya sampai kepada seorang
pemuda bernama Ammar bin Yasir. Ammar bin Yasir adalah seorang putra dari
wanita bernama Sumayyah bin Khayyat, budak atau hamba sahaya dari Abu Hudzaifah
bin Mughirah. Mengenal sebuah ajaran baru, yang mengenalkan kepada Pencipta
Semesta, mengajarkan kesetaraan derajad, dan hal-hal lain yang mungkin oleh
masyarakat Arab dianggap sebagai sesuatu yang biasa atau bahkan tradisi,
sedangkan pada kenyataannya hal itu adalah tabu, kezoliman, dan sebagainya. Hal
ini kemudian menembus ke dalam hati Ammar bin Yasir dan akhirnya tertarik untuk
menjadi pengikut Nabi Muhammad.
Segera
setelah itu, ia bergegas menemui kedua orang tuanya, dengan antusias ia
menceritakan akan pertemuannya dengan Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawanya.
Mendengar akan penuturan dari sang putra, Sumayyah dan suaminya Yasir seakan
menemukan harapan, menemukan mata air segar dalam kehausan, menemukan lentera
dalam kegelapan, segera setelah mengetahui akan hal itu, mereka masuk ke dalam
agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. Dua khalimat syahadat menggema dari
kedua bibirnya, keimanan terhadap agama yang dibawa oleh Rasulullah telah
menancap ke dalam hatinya. Sejak saat itu pula, dunia telah bersaksi akan
keimanan Sumayyah beserta keluarganya. Tidak lantas, keluarga Yasir ini
mengumumkan akan dirinya yang telah beriman kepada tuannya, Abu Hudzaifah bin
Mughirah. Karena memang Islam pada saat itu belumlah kuat, atau masih memiliki
pengikut yang sedikit. Banyak orang yang menentang ajaran Nabi Muhammad, bahkan
cenderung memusuhi siapapun yang mengikuti ajaran beliau.
Sampai
akhirnya, suatu hari Abu Hudzaifah mengetahui bahwa budaknya yang bernama
Sumayyah telah menjadi pengikut agama Nabi Muhammad. Sumayyah tidak bisa
mengelak, karena pada kenyataannya dia telah beriman, dia tidak akan mungkin
berdusta dan bermain-main terhadap keimanannya. Betapa hal itu membuat Abu
Hudzaifah sangat marah, ia memerintahkan Sumayyah untuk kembali memuji dan
menyembah berhala, akan tetapi keteguhan imannya begitu dalam, ia tetap
mengagungkan Allah sebagai Tuhannya. Akhirnya Sumayyah dan keluarganya mendapat
berbagai penyiksaan, sebagai upaya agar dia keluar dari agama Islam. Bahkan
penyiksaan itu benar-benar sangat kejam untuk diberikan kepada hewan sekalipun,
sedangkan hal itu diperlakukan kepada manusia terlebih dia adalah wanita.
Sumayyah,
suami dan anaknya Ammar kala itu benar-benar mempertaruhnya nyawanya untuk sebuah
keimanan terhadap Allah dan rasulNya. Dirinya beserta keluarga kecilnya
digiring ke tempat yang tandus, panas matahari bagai kobaran api yang menyala
di tengah sahara, diikat pada sebuah kayu, dipukul, dicambuk berharap mereka
keluar dari Islam, nyatanya keimanan telah mengakar kuat jauh ke dalam hatinya.
Kala Abu Jahal dan teman-temannya lelah menggunakan cara satu, mereka mencari
cara yang lain agar mereka mau menyerah. Nyatanya harapan mereka tak mampu
menembus keimanan Sumayyah dan keluarganya. Sumayyah dan keluarganya ditanam
pada tanah hingga hanya terlihat kepalanya, mereka dilempari batu hingga
wajahnya melepuh biru bermandi darah. Semua manyarakat bisa menyaksikan
terhadap apa yang dilakukan Abu Jahal dan teman-temannya terhadap kelaurga
Sumayyah, tetapi apalah daya, budak pada saat itu hanyalah seperti barang, yang
bebas untuk diperlakukan oleh yang memilikinya. Serta sebagai bentuk peringatan
kepada budak yang lain jika menjadi pengikut Nabi Muhammad.
Besi
mulai dipanaskan dinyala api yang berkobar, perlahan semakin memanas hingga
diujung besi yang panjang itu terlihat merah terbakar. Segera oleh Abu Jahal
besi yang telah matang itu diletakkan dikulit Sumayyah. Menjerit kesakitan
tiada terbentung, air mata keluar dengan deras, sebagai ungkapan betapa
sakitnya apa yang ia rasakan. Tidak peduli siang dan malam, Sumayyah dan
keluarganya disiksa, dan tidak diberi makan dan minum di tengah teriknya
matahari dan dinginnya malam. Namun pada kenyataannya Allah telah menghibur
kesakitannya dengan manisnya iman. Mengetahui penyiksaan yang dialami oleh
Sumayyah dan keluarganya, Rasulullah mendoakan mereka dan menghibur mereka,
“bersabarlah wahai keluarga Yasir, karena
sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga”
Mendengar
Rosulullah, bertambahlah keteguhan hati mereka, keimanan mereka tidak sejengkal
langkah semut pun bergeser meskipun penyiksaan terus mereka rasakan
bertubi-tubi. Hingga akhirnya, suami Sumayyah meninggal dalam penyiksaan, kini
tinggal Sumayyah dan Ammar bin Yasir, apakah mereka akan meninggalkan keimanan
atau mati dalam penyiksaan.
“Sekarang
giliran kamu Sumayyah, apakah kamu akan menyusul suamimu mati atau meninggalkan
keyakinanmu sebagai pengikut Muhammad” kata Abu Jahal dengan angkuhnya.
“Sedikitpun
aku tidak ada niat meninggalkan keimanan kepada Allah dan rasulNya, lebih baik
aku mati dari pada harus kembali kafir” Sumayyah mencoba menjawab. Nada yang
begitu lirih coba ia keluarkan dengan sisa tenaganya yang lemah. Mendengar hal
itu Abu Jahal dan orang-orang yang menyiksa Sumayyah tertawa terbahak-bahak,
seakan menganggap betapa bodohnya Sumayyah dan keluarganya dalam menjalani
hidup menjadi pengikut Nabi Muhammad. Segera Abu Jahal mencambuknya berulang
kali di tubuhnya yag sudah tak berdaya. Dengan kondisi tangan terikat di sebuah
kayu yang berdiri, Abu Jahal memegang kepala Sumayyah, dan mengatakan dengan
mata yang melotot,
“
sekali lagi, katakan Latta, Uzza, adalah tuhanku”.
Dengan
cepat Sumayyah menjawab, “ Ahad..Ahad…Ahad….”, dan terus mengulanginya.
Hal
itu membuat Abu Jahal sangat geram, dan dengan seketika ia membalikkan badannya
untuk mencari tombak. Dengan melampiaskan amarahnya, ia hujam Sumayyah dengan
runcingnya tombak di tangannya. Rasa sakit yang luar biasa tentunya, hingga terbanglah
nyawanya yang penuh derita dengan manisnya iman. Kematian baginya adalah hal
yang kecil, karena dalam hatinya telah terbangun megah pengagungan terhadap
Allah. Menyerahkan jiwanya sebagai bentuk cintanya terhadap ajaran Nabi
Muhammad. Ia adalah perempuan pertama yang syahid di jalan Allah. Sumayyah
binti Khayyat memberikan contoh bagaimana seorang wanita mampu berdiri tegak
dengan keimanannya, segala bentuk luka dan penyiksaan hidup di dunia adalah hal
yang tidak harus dipermasalahkan demi meraih ridho Illahi. Jiwanya begitu kuat,
suci dan bersih, hingga tak ada yang mampu menggoyahkan keimanannya. Jiwanya
berdiri begitu tegak menembus langit ke tujuh, ia adalah wanita yang
menunjukkan kecintaan tanpa syarat kepada Rabbnya, semua yang di langit dan
bumi menjadi saksi betapa ia adalah wanita yang luar biasa, dialah Sumayyah
binti Khayyat.
Komentar
Posting Komentar