PERILAKU SUFISTIK SEBAGAI TERAPI JIWA MANUSIA MODERN
PERILAKU
SUFISTIK SEBAGAI TERAPI JIWA MANUSIA MODERN
I.
IDENTIFIKASI MASALAH
Abad modern Barat telah dimulai sejak abad XVII,
yang merupakan awal kemenangan supremasi rasionalisme, empirisme, dan
positivisme, dari dogmatism agama.[1]
Pola pikir manusia pun semakin mengalami perkembangan dengan ditandainya kemajuan
teknologi yang semakin cepat. Persoalan-persoalan manusia menjadi lebih mudah
dengan perkembangan cipta, karya dan karsa manusia. Sehingga manusia merasa
menjadi tuan atas dirinya sendiri, yang mengakibatkan mereka terputus dari
nilai spiritual. Roger Garaudy mengatakan, justru dengan hal tersebut manusia
modern tidak mampu menjawab persoalan-persoalan hidupnya. Manusia modern
semakin dihinggapi rasa cemas dan ketidak bermaknaan dalam hidupnya.
Dalam mencari ketenangan hidup dari masalah yang
dihadapinya, manusia modern sering kali menjadikan minuman keras, narkotika,
bunuh diri, sebagai pilihan dari masalah mereka. Manusia modern lebih banyak
yang lupa akan kebutuhan ruhani yang tidak pernah mereka perhatikan. Hal ini
jauh berbanding terbalik dengan bagaimana keadaan pada masa Rosulullah saw,
sahabat, dan generasi sholeh pada masa lalu. Kehidupan mereka jauh dari
kemewahan, bahkan bisa dikatakan sangat sederhana. Namun, kehidupan mereka
penuh dengan ketenangan, rasa syukur, dan keikhlasan.
Apa yang mereka para generasi sholih tunjukkan
merupakan bukti bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bukan ketika seseorang
mampu memiliki dan berbuat segalanya. Namun tentang bagaimana seseorang harus
menjalani kehidupan dunia dengan tetap menjalankan perilaku sufistik atau
perilaku spiritual yang tidak hanya sebatas dohiri namun juga secara lahiri.
Respon masyarakat terhadap datangnya
tasawuf di dunia modern saat ini masih sangat minim. Tasawuf hanya dianggap sebagai suatu kajian ilmu
pengetahuan yang tidak mampu memberi keuntungan bagi mereka. Hal ini menjdi
suatu hal yang sangat memprihatinkan. Di dalam kehidupan masyarakat modern,
tasawuf sebenarnya sangat dibutuhkan dalam membimbing manusia menuju jalan
kebahagiaan. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi kita, akan bagaimana
seseorang harus mampu memperkenalkan tasawuf dengan perilaku sufistiknya mampu
memberikan jawaban terhadap problematika manusia modern di tengah persaingan
ilmu pengetahuan yang lain.
Rumusan
Masalah:
1. Bagaimana
ajaran sufistik dalam memberikan ketentraman jiwa manusia?
2. Bagaimana
kegelisahan dekadensi moral dalam kehidupan masyarakat modern?
3. Bagaimana
peran perilaku sufistik sebagai psikoterapi jiwa manusia modern?
Tujuan:
1. Mengetahui
ajaran sufistik dalam memberikan ketentraman kehidupan manusia.
2. Mengetahui
kondisi, masalah, dan dampak yang ditimbulkan dari kehidupan manusia modern.
3. Mengetahui
peran perilaku sufistik sebagai psikoterapi manusia modern.
II.
PROBLEMATIKA MANUSIA MODERN
A. Materialism
Manusia Modern
Kemajuan
iptek pada kenyataanya tidak mampu memberikan harkat yang hakiki terhadap
manusia. Yang terjadi justru sebaliknya, banyak terjadi kecemasan dan semakin
tidak bermaknanya kehidupan karena kehampaan spiritualitas. J. Herlihy
mengatakan bahwa manusia tradisional berusaha menyatukan hati dan pikiran dan
membentuk persepsi ke dalam, yang kemudian memaksa keterbatasan dirinya untuk
menerima realitas yang lebih tinggi. Sementara manusia kontemporer malah
menceraikan pikiran dari hatinya, hanya untuk melahirkan ego formal yang lalu
dikembangkan untuk bisa berhubungan dengan dunia luar.[2]
Keinginan manusia
terhadap duniapun semakin menjadi-jadi, sedangkan terhadap Allah semakin jauh.
Kesibukan manusia terhadap dunia dapat dilihat akan bagaimana manusia modern
dalam menghabiskan waktunya yang lebih banyak digunakan demi kesenangan dan
mendapatkan apa yang mereka inginkan. Seperti, sekolah favorit, jabatan,
pekerjaan, dan sebagainya. Persaingan dalam pembangunan dengan mempertinggi dan
memperbagus bangunan, tanpa memperhatikan manfaat maupun kerugiannya, aslakan
mereka mendapatkan kepuasan diri. Moralitas manusia sudah lagi tidak
mencerminkan keluhuran budi, minuman keras, berjudi, berzina, menipu, bahkan
membunuh menjadi hal yang tidak tabu lagi untuk didengar .
B. Indikasi
Gangguan Kejiwaan Manusia Modern
Keberadaan
jiwa seseorang dapat diketahui dengan sikap, perilaku dan penampilannya.
Menurut Al-Ghozali, menusia berperilaku tidak terlepas dari salah satu dua
kecenderungan, yaitu kecenderungan syahwat dan amarah. Kecenderungan syahwat
timbul jika seseorang menginginkan sesuatu yang dianggap menguntungkan dirinya.
Kecenderungan amarah muncul, jika seseorang menolak sesuatu yang dianggap
merugikan. Apabila dua kecenderungan tersebut berlebihan, maka dapat
menumbuhkan kerakusan dan kebuasan.[3]Lalainya
manusia kepada Tuhan dan lemahnya manusia dalam mengendalikan kedua hal
tersebutlah menurut Al-Ghozali yang menjadikan perilaku menyimpang. Indikasi
atau tanda kejiwaan yang tidak stabil itu ada banyak, sedangkan menurut
pandangan Al-Ghozali adalah:
1. Riya’/suka
pamer
Orang
yang riya’ berarti memperlihatkan sesuatunya kepada orang lain dengan maksud
agar orang lain menaruh perhatian kepadanya. Hal ini menujukkan bahwa hakikat
riya’ sebenarnya merupakan penjelmaan dari sifat orang yang lalai dan tidak
mampu memahami hakikat dirinya.
2. Gila
pangkat dan kemegahan
Al-Ghozali
mengatakan, “orang yang ingin memiliki uang, tujuannya adalah terpenuhinya
segala keinginan dan kemauannya. Begitu pula pangkat dan kemegahan bagi
manusia, tujuannya adalah agar ia dapat menguasai manusia untuk memenuhi segala
keinginan dan tujuan-tujuannya.
3. Ujub/membanggakan
diri
Merupakan
sifat orang yang merasa besar diri, karena memperolehnya, kenikmatan atas
kesempurnaan(ilmu, amal, harta, sebagainya), dan mengakui bahwa semua diperoleh
dari usahanya sendiri. Sehingga ia lupa kepada yang member karunia dan
kesempurnaan.
4. Takabur/sombong
5. Dengki/hasad
6. Dendam
7. Kejahatan
lidah
8. Cinta
harta dan dunia
C. Bunuh
Diri Sebagai Dampak Dari Kehampaan Spiritual
‘Aidh Al-Qarni dalam bukunya yang terkenal, Laa
Tahzan (jangan bersedih), mengisyaratkan adanya beberapa kondisi yang
mengantarkan orang melakukan bunuh diri. Pertama, depresi. Kedua,
lemahnya kepercayaan, kedekatan, atau prasangka akan takdir Allah SWT.[4]Semakin
rumitnya permasalahan setiap individu di kehidupan modern, seringkali
menjadikan manusia depresi, ditambah dengan kurangnya seseorang berkomunikasi
dengan Tuhannya. Data
pada tahun 2014 yang dirilis WHO juga menunjukkan, lebih dari 800 ribu orang
setiap tahun tewas akibat bunuh diri. Artinya setiap 40 detik, 1 orang
meninggal dengan cara tersebut.[5]
III.
KONSEP SUFISTIK TERHADAP KESEHATAN JIWA
A. Pengertian
Sufistik Dan Psikoterapi
Sebelum
mengetahui akan makna sufistik, terlebih dahulu kita perlu mengetahui akan apa
itu tasawuf. Secara etimologis, tasawuf merupakan kata yang sebenarnya
berasal dari beberapa kata yang berbeda. Yaitu:
a. Ahlush
shuffah, yang berarti sekelompok manusia di zaman
Rosulullah saw yang banyak berdiam diri di serambi masjid dan mengabdikan
hidupnya untuk beribadah kepada Allah.
b. Shafa’
yang berarti suci, yakni orang yang menyucikan diri di hadapan Tuhan.
c. Shopos,
yang dalam bahasa Yunani dimaknai dengan kata hikmah yang berarti
kebijaksanaan.
d. Shuf
artinya
ialah kain yang terbuat dari bulu wol, yang berarti melambangkan kesederhanaan.[6]
Secara terminology,
tasawuf menurut Syaikh Islam Zakaria Al-Anshari yaitu ilmu yang menerangkan
cara-cara mencuci bersih jiwa, memperbaiki akhlak, dan membina kesejahteraan
lahir serta batin untuk mencapai kebahagiaan yang abadi.[7]
Selanjutnya, pengertian sufistik yang terdapat dalam
kamus besar Bahasa Indonesia adalah berkenaan dengan ilmu tasawuf, sedangkan
sufi adalah ahli ilmu suluk atau ahli ilmu tasawuf.Menurut Abdul Munir Mulkhan
bahwa yang dimaksud dengan istilah sufistik itu adalah sifat seperti pemikiran
sufistik artinya pemikiran yang nyufi, sementara sufi itu sendiri adalah
sebutan atau nama suatu tindakan atau pandangan, sedangkan sufisme adalah suatu
cara pandang atau sikap yang memandang bahwa pencapaian kedekatan pada Tuhan
dilakukan tidak hanya dengan ritual ibadah yang kasat mata atau fisik jasmani,
melainkan juga sekaligus dengan ritual hati dan keterlibatan hati atau jiwa.[8]
Istilah
psikoterapi berasal dari kata “psycho” yang berarti jiwa dan “terapy”
yang berarti penyembuhan jiwa.[9]
Sehingga dalam hal ini dapat dimaknai bahwa dari adanya perilaku sufistik dalam
diri seseorang akan mampu memberikan terapi atau pengobatan terhadap jiwa
seseorang. Sedangkan jiwa atau nafs dalam arti psikis dimaknai sebagai jiwa
rohani yang bersifat lathif, rohani, dan rabbani.[10]
Jiwa yang selalu meridukan Tuhannya sehingga memberikan ketenangan batin yang
berbeda bagi setiap individu.
B. Objek
Dan Metode Psikoterapi
Objek
yang menjadi fokus penyembuhan dari psikoterapi Islam adalah manusia secara
utuh, yakni menyangkut :
1. Mental
Berhubungan
dengan fikiran, akal, ingatan, atau proses yang berasosiasi dengan ketiganya.[11]Demi
menjaga kesehatan mental seseorang, Allah telah mengharamkan manusia untuk
menuman keras, narkoba, maupun yang sejenisnya.
2. Spiritual
Yakni
berhubungan dengan masalah ruh, semangat, religious, dan keimanan. Seseorang
yang jauh dari Allah akan mengalami kegelisahan, ketakutan, dan kebimbangan
dalam hidupnya. Penyakit-penyakit baik lahir maupun batin akan mudah
menghampirinya. Seperti halnya munafik, tidak sedikit manusia modern yang melakukan
segala cara demi persaingan kerja, bisnis, maupun yang lainnya.
Rosulullah
saw menerangkan bahwa tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika ia berkata
dusta, jika ia berjanji, ia mengingkari, dan jika dipercaya, ia khianat. (HR.
Bukhari dan Muslim).[12]Demikian
sifat munafik menjadi salah satu penyakit bathiniyah yang sulit disembuhkan
bahkan oleh dokter sekalipun.
3. Moral
Moral
atau akhlak, yaitu merupakan keadaan yang melekat pada jiwa, yang dengannya
lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa proses berfikir, pertimbangan,
atau pengertian.[13]
Di
dalam Islam, paradigma moral telah diajarkan melalui Al-Quran dan Sunnah Rosul
saw. Moral yang mengikuti apa yang telah diajarkan dalam Islam, akan
mencerminkan sikap sabar, santun, optimis, dll. Sebaliknya, seseorang yang jauh
dengan Al-quran dan Sunnah akan cenderung memiliki sifat iri, dengki, sombong,
ambisius, rakus, dll.
4. Fisik
Fisik
atau jasmani, tidak semua penyakit fisik dapat disembuhkan dengan terapi
sufistik, adakalanya penyakit tersebut juga membutuhkan penanganan secara
medis, seperti lumpuh, jantung, liver, maupun yang lainnya.
Adapun
metode yang digunakan oleh kaum sufi dalam melakukan proses pensucian diri guna
memberikan penyembuhan dan perawatan. Bahkan tidak hanya sampai disitu, metode
kaum sufi akan mengantarkan seseorang sampai kepada peningkatan kualitas dari
esensi manusia, yaitu penemuan jati diri yang mulia dan suci. Metode ini dibagi
menjadi:
1. Takhalli
Yakni
metode pengosongan diri dari bekasan-bekasan kedurhakaan. Fase takhalli
merupakan fase pensucian mental, jiwa, akal, fikiran, qalbu, dan moral dengan
sifat-sifat mulia. Metode ini secara teknis ada lima, yaitu:
a. Mencusikan
yang najis dengan istinjak
b. Mencusikan
yang kotor dengan cara mandi
c. Mensucikan
yang bersih dengan wudhu
d. Mencusikan
yang suci dengan sholat taubat
e. Mencusikan
Yang Maha Suci dengan dzikir dan mentauhidkan Allah.
Metode
penyucian rohani adalah merenungkan keburukan dunia dan menyadari bahwa dunia
akan segera sirna. Hal tersebut hanya akan bisa dicapai dengan mengalahkan hawa
nafsu.
2. Tahalli
Yaitu
merupakan pengisian diri dengan ibadah dan ketaatan, aplikasi tauhid dan akhlak
yang terpuji dan mulia.
Seperti taubat, khauf,
raja’, zuhud, faqr, sabar, rida, dan muraqabah. Dalam artian, berusaha
membersihkan hati, jiwa, fikiran dengan melakukan ketaatan kepada Allah.
3. Tajalli
Dalam
makna bahasa berarti tampak, terbuka. Allah menampakkan Diri kepada hamba-Nya
yang dikehendaki, bukan hanya cahaya kebenaran hakiki, tetapi juga Dzat yang
memiliki cahaya itulah yang nampak.[14]
C. Ajaran
Dalam Ilmu Tasawuf
A.A.
Brill, seorang psikoanalisis mengungkapkan, orang yang beragama secara
sungguh-sungguh sama sekali tidak akan mengalami penyakit kejiwaan atau
gangguan mental.[15]
Dalam kehidupan manusia, tentunya ada banyak permasalahan yang dialami seperti
pertengkaran dalam rumah tangga, kehilangan orang terdekat, gagal mencapai
cita-cita, di PHK, dll, yang semuanya akan memberikan dampak terhadap kejiwaan
seseorang.
Dalam
dunia tasawuf, qalb atau hati adalah pusat perilaku manusia.
Sehingga langkah awal
dari perilaku sufistik dalam tasawuf adalah dengan tazkiyatun nafs, yakni
pembersihan diri. Hal tersebut dilakukan dengan memperbanyak zikir, diantara
ayat-ayat Al-Quran adalah firman Allah SWT:
“Yaitu orang-orang yang
beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya
dengan mengingat Allah hati menjadi tentram” [16](QS.
Ar Ra’d: 28)
Hal
tersebut menunjukkan betapa pentingnya mengingat Allah, dengan pelakukan zikir
akan diperoleh rasa tenang, ketentraman dalam hati. Zikir tidak hanya dimaknai
dengan menyebut nama Allah SWT melalui lisan, namun juga dalam fikiran, hati,
dan perbuatan.
Pembersihan hati dalam tasawuf tidak hanya dilakukan
dengan berzikir, namun para sufi juga melakukan pembinaan sufistik dengan
menempuh perjalanan menuju ma’rifat kepada Allah melalui latihan-latihan rohani
yang dilakukan secara bertahap yang disebut maqamat. Maqamat merupakan bentuk
jamak dari maqam, yang mengandung arti kedudukan dan tempat berpijak dua
telapak kaki. Sehingga dengan maqamat tersebut seseorang akan mengalami ahwal
atau pengalaman batin seperti rasa khouf (takut), raja’ (harap), syauq
(rindu), mahabbah (cinta).. Adapun macam-macam maqamat:
1. Taubat
Taubat
mengandung makna “kembali”, yakni kembali dari sesuatu yang dicela oleh syara’
menuju sesuatu yang dipuji olehnya.[17]
Taubat merupakan usaha dalam memahami diri sendiri terhadap kesalahan-kesalahan
dengan mengisi mengimbanginya dengan usaha mendekatkan diri kepada Allah dengan
amalan sholeh. Bagi seorang sufi, penyesalan menjadi syarat yang penting dalam
melakukan taubat. Amal shaleh setelah bertaubat dalam psikoterapi sufistik
disebut juga dengan tajalli.[18]
2. Wara’
Secara
harfiah, al-wara’ artinya saleh, yaitu menjauhkan diri dari perbuatan
dosa. Dalam pengertian sufi sendiri merupakan upaya dalam meninggalkan segala
yang didalamnya terdapat keragu-raguan antara yang halal dan haram.
3. Zuhud
Secara
terminology, zuhud mengarahkan keinginan kepada Allah SWT, menyatukan kemauan
kepada-Nya sehingga lebih sibuk dengan-Nya serta meninggalkan kesibukan yang
lain dengan harapan agar Allah memperhatikan dan membimbing seorang zahid (orang yang berperilaku zuhud). Al Junaid
al-Baghdadi mengatakan bahwa zuhud adalah ketika tangan tidak memiliki apa pun
dengan pengosongan hati dan cita-cita.[19]
Dalam pengertian secara neo sufisme, zuhud tidak dimaknai dengan meninggalkan
dunia, melainkan menjadikan dunia berada di tangannya atau kekuasaannya namun
tidak meletakkan di dalam hatinya, yaitu menyerahkan semuanya kepada Allah.
4. Sabar
Sabar
dalam pengertian bahasa berarti “menahan atau bertahan”. Yakni bertahan dari rasa
gelisah, cemas, marah, serta keluh kesah lisan serta menahan anggota tubuh
dalam berbuat dosa. Didalam kehidupan, manusia tidak lepas dari dua macam,
yaitu: yang sesuai dengan hawa nafsu dan yang berlawanan dengan hawa nafsu,
yang dengan keduanya seseorang membutuhkan kesabaran.
5. Tawakal
Secara
bahasa, tawakal berarti berserah diri, mempercayakan diri dan mewakilkan.
Sehingga seorang sufi senantiasa menyandarkan apa yang telah mereka lakukan
hanya kepada Allah. Hati mereka tidak lagi digelisahkan oleh keinginan nafsu,
melainkan rasa percaya kepada Allah.
6. Rida
Yakni
kesanggupan seorang sufi terhadap apa yang menjadi kehendak Allah. Mereka akan
selalu bahagia bersama Tuhan, karena baginya segala keadaan hidup, baik nikmat
atau cobaan adalah dalam rangka mengharap rida Allah SWT. Dalam psikologi
sufistik, rida dapat menjadi kekuatan spiritual. Rida dapat berfungsi sebagai
takhalliyah al-nafs, tajalli al-nafs, dan tahalli al-nafs, dimana ketiganya
besesuaian dengan metode kesehatan mental.
7. Faqr
Secara
bahasa, faqr (fakir) diartikan sebagai orang yang berhajad, membutuhkan,
atau miskin. Dalam tasawuf, fakir dimaknai dengan mengosongkan hati dari ikatan
dan keinginan terhadap apa saja, selain Allah. Maqam fakir sebenarnya hanyalah
memutuskan persangkutan hati dengan dunia, sehingga hatinya hanya terisi pada
kerinduan, keindahan dalam mengenal Allah dalam setiap waktu.
IV.
PERILAKU SUFISTIK TERHADAP KESEHATAN
JIWA
A. Sholat
Dalam
pemaknaan secara sufistik, sholat tidak hanya dimaknai dengan sebatas
menjalankan kewajiban. Lebih dari itu, sholat bagi para sufi merupakan hal yang
sangat intim antara hamba dengan Tuhannya. Sehingga dalam melakukan sholat,
kehadiran hati seorang hamba kepada Tuhannya sangat penting. Kekhusyukan dalam
sholat mengandung unsure meditasi, doa dalam sholat mampu memberikan
penyembuhan terhadap gangguan mental. Serta Konsentrasi otot, dan tekanan pada
otot-otot tertentu dalam sholat adalah merupakan proses relaksasi. Arif
Wibisono Adi dalam penelitiannya menyimpulkan adanya korelasi negative yang
signifikan antara keteraturan menjalankan sholat dengan tingkat kecemasan.
Makin teratur seseorang melakukan sholat, maka makin rendah tingkat
kecemasannya. Didukung dengan penemuan Dr. Moh Sholeh terhadap sholat tahajud
yang mampu memberikan efek ketenangan bagi yang menjalankannya.[20]
B. Puasa
Para
sufi, yakni orang-orang yang selalu merindukan Tuhannya akan memperbanyak
sholat di malam hari dan memperbanyak puasa di siang hari. Berkaitan dengan
ini, gangguan jiwa yang parah dapat disembuhkan dengan berpuasa. Dr. Nicolavey,
seorang guru besar yang bekerja pada lembaga psikiatri Moskow mencoba menyembuhkan
gangguan kejiwaan dengan berpuasa. Selama 30 hari, Nicolaev, mengadakan
eksperimen dengan membagi subyek dalam dua kelompok yang sama besar. Kelompok
pertama diberi pengobatan dengan obat-obatan. Pada kelompok kedua, diikuti
dengan perkembangan fisik dan mentalnya dengan tes-tes psikologi. Hasil dari
eksperimen diperoleh bahwa pasien yang tidak dapat disembuhkan dengan terapi
medis, ternyata bisa disembuhkan dengan puasa. [21]
C. Zikir
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan oleh Cucu Setiawan terhadap pasien pencandu narkoba
di pondok Inabah IV Sindanghayu kecamatan Banjarsari kabupaten Ciamis,
diketahui bahwa zikir dapat membantu ketentraman jiwa pecandu narkoba. Jiwa
mereka berangsur membaik. Mereka tidak lagi resah, mampu mengendalikan emosi,
dan mengembalikan ingatan mereka.
KESIMPULAN
Seiring perkembangan zaman, pola fikir,
gaya hidup, maupun yang lainnya semakin mengalaki kemajuan yang luar biasa.
Rasionalitas manusia mampu menemukan dan menciptakan temuan-temuan baru.
Sehingga, kehidupan spiritualpun menjadi hal yang tidak penting bagi mereka.
Mereka lebih mempersibukkan diri dengan pekerjaan mereka. Rasa tidak puas, rasa
ingin memiliki segalanya, kehidupan yang penuh dengan persainganpun menjadi hal
yang sangat mendominasi diri manusia modern, seperti, iri, dengki, cinta dunia,
dll. Akibatnya, kecemasan, dan kegelisahanpun selalu menghantui hati mereka.
Tidak hayal, bunuh diri menjadi salah satu jalan keluar bagi mereka yang ingin
terbebas dari itu semua.
Berkaitan dengan hal ini, tasawuf
datang di tengah kehidupan modern dengan membawa solusi terhadap permasalahan manusia
yang selama ini dianggap sebagai penyakit
jiwa. Dalam perilaku sufistik, mental, spiritual, moral dan fisik manusia
menjadi objek penelitian dengan menjadikan takhalli, tahalli, dan tajalli dalam
istilah tasawuf menyebutnya sebagai metode penelitian. Apa yang diajarkan dalam
tasawuf sebenarnya tidak lepas tentang bagaimana upaya seseorang dalam
mensucikan hati sehingga lebih dekat dengan Allah. Yaitu dengan melakukan
zikir, serta latihan secara bertahap yang ditempuh oleh para sufi yang dikenal
dengan istilah maqamat. Adapun maqamat dalam tasawuf diantaranya adalah taubat,
wara’, zuhur, sabar, tawakal, rida, dan faqr. Seingga dengan itu manusia akan
mampu merasakan ahwal (pengalaman batin) seperti rasa cinta, rindu, takut, dan
harap hanya kepada Alllah SWT.
Pelaksanaan ibadah dengan pemahaman
sufi akan memberikan efek yang luar biasa bagi kondisi jiwa seseorang.
Seseorang bisa dengan melakukan sholat, puasa, zikir, maupun yang lainnya tidak
hanya sebatas rutinitas, tapi dengan penuh penghayatan. Didukung dari adanya
bukti empiris bahwa perilaku sufistik mampu memberikan jawaban terhadap
psikologi manusia modern.
REKOMENDASI
Dalam
menghadapi kehidupan modern, seseorang tidak cukup hanya dengan memiliki
intelektualitas yang tinggi maupun kehormatan yang didapat kan dengan segala
cara. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa dengan kualitas intelektual yang
tinggi seseorang mendapat apresiasi, sehingga kebutuhan secara materialpun
tercukupi. Namun perlu diingat, bahwa kebutuhan manusia tidak terbatas hanya
pada kecukupan secara material, namun
fitrah manusia sebagai makhluk yang suci selalu merindukan Tuhannya.
Menjalankan dan memaknai setiap perilaku baik dalam berhubungan dengan Tuhan
ataupun manusia merupakan hal yang harus diperhatikan guna mendapatkan
kesehatan jiwa secara lahir dan batin.
DAFTAR PUSTAKA
A Munir, Samsul. Ilmu Tasawuf. Jakarta:
Amzah, 2012.
A Bakran, Hamdani. Konseling
Dan Psikiterapi Islam. Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001.
Abl. Rahman, Gusti. Terapi
Sufistik Untuk Penyembuhan Gangguan Jiwa. Banjarmasin: Antasari Press, 2012.
http://rofiqnasihudin.blogspot.co.id/2010/10/pendidikan-sufistik-telaah-pemikiran.html
2.25 pm
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_tingkat_bunuh_diri
7.33 AM
Maksum,
Ali. Tasawuf Sebagai Pembebasan Manusia Modern. Surabaya: Pustaka
Pelajar, 2003.
Nawawi, Imam. Ad
Dimasqy Riyadh Ash-Shalihin. Beirut, Dar Fikr, 1992.
Rajab, Khairunnas. Psikologi
Ibadah. Jakarta: Amzah, 2011.
Sholeh, Moh., Imam
Musbikin. Agama Sebagai Terapi. Jogjakarta:Pustaka Pelajar, 2005.
Sholihin,M. Tasawuf
Tematik. Bandung: pustaka setia, 2003.
Tamami, Psikologi
Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia, 2011.
Ya’qub, Hamzah. Tashawuf
dan Taqorrub. Bandung: Pustaka Madya, 1977.
Yahya, Syekh ibn Hamzah
al-Yamani al-Dzimari, terj. Maman Abdurrahman A. Latihan Lengkap Tazkiyatun
Nafs. Jakarta: Zaman, 2012.
[1] Ali Maksum, Tasawuf Sebagai
Pembebasan Manusia Modern,(Surabaya: Pustaka Pelajar, 2003), 2.
[2] Moh. Sholeh, Imam Musbikin, Agama
Sebagai Terapi,(Jogjakarta:Pustaka pelajar, 2005), 40.
[3] Ibid, 113.
[4] Ibid, 308.
[6] Samsul Munir A, Ilmu Tasawuf
(Jakarta: amzah, 2012), 3-4.
[7] Ibid,8.
[9] Gusti Abl. Rahman, Terapi
Sufistik Untuk Penyembuhan Gangguan Jiwa (Banjarmasin: Antasari Press,
2012), 39.
[10] M. sholihin, Tasawuf Tematik
(Bandung: pustaka setia, 2003), 127.
[11] Hamdani Bakran A, Konseling
Dan Psikiterapi Islam.(Jogjakarta: Fajar Pustaka Baru, 2001), 237.
[12] Imam Nawawi, Ad Dimasqy
Riyadh Ash-Shalihin (Beirut, Dar Fikr, 1992), 72.
[13] Gusti Abl. Rahman, 89.
[14] Hamdani Bakran A, 259-269.
[15] Gusti Abl. Rahman, 228.
[16] QS.Ar-Ra’d (13):28
[17] Tamami, Psikologi Tasawuf
(Bandung: Pustaka Setia, 2011), 169.
[18] Khairunnas Rajab, Psikologi
Ibadah (Jakarta: Amzah, 2011), 141.
[19] Ibid, 143.
[20] Baca selebihnya di buku “Pengaruh
Sholat Tahajud Terhadap Peningkatan Respon Ketahanan Tubuh Imunologik:Suatu
Pendekatan Psikoneuruimonogik”.
[21] Gusti Abl. Rahman, 269.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar