ZIKIR






ZIKIR SEBAGAI PENENANG HATI
MENURUT AL-QUR’AN SURAH AL-BAQARAH AYAT 152
DAN
SURAH AR-RAD AYAT 28
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
 “Ilmu Tafsir”
Dosen Pengampu:
Mohammad Zaenal Arifin, M.Ag





Disusun Oleh:
1.      Choirotun Nikmah (933610213)
2.      Siti Naylurohmah   (933611213)



JURUSAN USHULUDDIN PRODI AKHLAK TASAWUF
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
2014


A.    LATAR BELAKANG
Seharusnya kita mempunyai wirid yang berupa zikir kepada Alloh yang dapat membatasi kita dengan waktu atau dapat memperhitungkan bilangannya. Zikir merupakan ruhnya tarikat, kunci kebenaran, sahabatnya para murid dan ajaran para wali. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh sebagian orang arif bahwa Alloh berfirman :
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ -١٥٢-

 “ Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu”(QS Al-Baqarah [2] : 152 )
                        Keadaan manusia yang terlalu terlena oleh dunia, telah menjadikan kebanyakan manusia lupa akan Tuhannya. Mereka hidup berfoya-foya, sehingga kebebasan mereka dalam menikmati hidup menjadiakan hati mereka dibalut oleh kegelapan. Padahal manusia tidak akan menemukan kebahagiaan yang sejati tanpa mengingat Tuhannya. Mengingat atau berzikir kepada Allah sangat berpengaruh pada kondisi hati seseorang dalam menyikapi kehidupan. Perlu adanya kesandaran diri pada seseoran untuk mulai belajar untuk sebisa mungkin berzikir kepad Allah.



B.     Rumusan Masalah
1.      Apa makna zikir itu ?
2.      Apa saja macam-macamnya?
3.      Manfaat apa sajakah yang ada di dalam zikir bagi hati ?
4.      Bagaimana cara menjaga zikir?
C.    Tujuan
1.      Mengetahui makna akan zikir
2.      Memahami macam-macam zikir
3.      mengetahui akan manfaat zikir bagi hati
4.      Mengetahui cara menjaga zikir


PEMBAHASAN
A.    MAKNA DZIKIR
Dzikir berarti menyebut dan mengingat. Dzikrullah berarti menyebut dan mengingat Allah SWT. Dzikir yang baik mencakup dua makna di atas; menyebut dan mengingat. Dzikir dengan hanya menyebut dengan lisan tanpa menghadirkan hati tetap bisa mendatangkan pahala, namun tentu dzikir macam ini berada pada tingkat yang paling rendah. Dzikir dengan lisan tanpa menghadirkan hati dan pikiran bisa saja memberi pengaruh terhadap hati dan keimanan seseorang, tetapi pengaruhnya tidak sebesar dzikir sambil menghadirkan hati. Paling baik adalah dzikir dengan lisan sambil menghadirkan hati. Allah SWT berfirman dalam QS.Al-Baqarah : 239

فَإنْ خِفْتُمْ فَرِجَالاً أَوْ رُكْبَاناً فَإِذَا أَمِنتُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَمَا عَلَّمَكُم مَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ -٢٣٩-

“Namun apabila kalian dalam keadaan takut, maka sambil berjalan atau berkendaraan. Kemudian apabila kalian telah aman, maka ingatlah kepada Allah sebagaimana Dia telah Mengajarkan kepada kalian apa-apa yang belum kalian ketahui.”(QS.Al-Baqarah : 239)

Dalam Hadits  juga disebutkan bahwa :"Siapa yang ingin bersenang - senang ditaman syurga, perbanyaklah dzikir". (HR.Thabrani).
B.     MACAM-MACAM ZIKIR
                        Para ahli tasawuf membagi dzikir itu dengan dua bagian :
1.      Dzikir Lisan(Jahr) :
Zikir Lisan ialah zikir dengan mengucapkan lafal-lafal zikir tertentu, baik dengan suara keras maupun dengan suara perlahan. Ada beberapa lafal zikir yang bersumber dari Al-Qur’an maupun Hadits Nabi, yaitu :
1.      Tahmid ialah mengucapkan Alhamdulillah.
2.      Tasbih ialah mengucapkan Subhanalloh.
3.      Takbir ialah mengucapkan Allohu Akbar.
4.      Tahlil ialah mengucapkan la ilaha alla Allah.
5.      Basmallah ialah mengucapkan bismillahirrohmani Ar-rohim.
6.      Istighfar ialah mengucapkan astaghfirullah.
7.      Hawqalah ialah mengucapkan la hawla wala quwwata illa billah.
Adapun dalil yang menerangkan zikir dengan menggunakan lidah dan menggerakkan kedua bibir (lisan) :
فَإِذَا قَضَيْتُمُ الصَّلاَةَ فَاذْكُرُواْ اللّهَ قِيَاماً وَقُعُوداً وَعَلَى جُنُوبِكُمْ فَإِذَا اطْمَأْنَنتُمْ فَأَقِيمُواْ الصَّلاَةَ إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَاباً مَّوْقُوتاً -١٠٣-
            “Apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.(QS.An-Nisa : 103).
2.      Dzikir Qolbi (Khafi) :
Zikir Qolbu disebut juga zikir tersembunyi , yaitu zikir yang tersembunyi di dalam hati, tanpa suara dan kata-kata. Dengan berzikir qolbu akan hidup dan kita dapat berkomunikasi langsung dengan Allah.
C.     MANFAAT DAN KEUTAMAAN ZIKIR BAGI HATI
                        Dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah, zikir mempunyai peranan yang sangat penting karena zikir merupakan santapan hati. Al-Ghozali dalam kitabnya Ihya’ Ulum Ad-Din, menjelaskan bahwa hati manusia tak ubahnya seperti kolam yang dialiri oleh bermacam-macam air dari sungai yang mengalir ke kolam tersebut.[1]
Zikir kepada Allah merupakan hiasan bagi kaum sufi, setelah mereka berhasil menghilangkan rintangan jiwa dan membersihkannyadari perilaku atau akhlak yang buruk. Setelah itu, jiwa mereka benar-benar sampai pada pengosongan hati dari selain Allah. Syarat utama untuk menempuh jalan Allah adalah membersihkan hati secara menyeluruh dari selain Allah , sedangkan kuncinya menenggelamkan hati secara keseluruhan dengan zikir kepada Allah.
Dalam Raudat Ath-Thalibin , Al-Ghozali memandang zikir sebagai prinsip dari seorang yang berjalan menuju Tuhan. Dengan memperbanyak zikir lewat hati dan lisannya secara total, zikir tersebut mengalir ke jantung hatinya. Zikir juga bermanfaat untuk membersihka hati. Kondisi hati yang bersih ini membuat terangnya hati dalam memandang kebenaran.
لَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram" (QS. Ar-Rad : 28)
Ayat di atas dapat ditafsirkan:
Alladzīna āmanū ([yaitu] orang-orang yang beriman) kepada Nabi Muhammad saw. dan al-Quran.
Wa tathma-innu qulūbuhum (dan hati mereka merasa tenteram), yakni hati mereka merasa rela dan tenang.
Bi dzikrillāh (dengan mengingat Allah), yakni dengan al-Quran. Menurut satu pendapat, dengan Janji Allah Ta‘ala.
Alā bi dzikrillāhi tathma-innul qulūb (ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram), yakni hati menjadi rela dan tenang.
              Al-Ghozali menerangkan bahwa terangnya hati dalam memandang adalah hasil dari zikir kepada Allah yang tidak mungkin terjadi, selain orang-orang yang bertaqwa. Jadi, taqwa ialah pintu gerbang zikir, dan zikir ialah pintu gerbang kasyaf  ( terbuka hijab). Sedangkan kasyf sendiri adalah pintu gerbang kemenangan yang besar.
   Ruang gerak setan menjadi terhalangi dengan zikir kepada Allah, sehingga setan pergi menjauh dari hati manusia, dan di saat itulah malaikat mulai memberikan ilham ke dalam hati. Asy-Sya’roni mengungkapkan dalam kitab Anwar Al-Qudsiyyah bahwa : “Manfaat zikir itu tidak terbatas karena orang yang berzikir membuat posisinya seolah-olah tidak terlihat ada jarak antara dia dengan Tuhannya.”  Adapun orang-orang yang tidak berzikir kepada Allah, hatinya akan merasakan kehampaan, sering mengalami ketidak tenangan hidup.



D.    ZIKIR MEMBAWA HAMBA DEKAT DENGAN ALLAH
Zikir adalah salah satu upaya yang dilakukan seseorang yang ingin menghubungkan dirinya dengan Allah, baik dengan lisan maupun dengan qalbu ataupun dengan menggabungkan kedunya. Zikir merupakan salah satu tarekat ( thoriqoh), yaitu jalan, metode, atau cara yang dilakukan para sufi guna mencusikan jiwa, merasakan kehadiran-Nya.
Selain itu zikir juga berfungsi untuk mendatangkan nikmat dan ketenanganhati,
sehingga selalu dalam penjagaan Allah. Hal ini dapat dilihat dalam firman Allah:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ -١٥٢-
“Oleh karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku pun Ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kalian kufur.”(QS. Al-Baqarah:152)
Dimana dalam tafsir al Jallalein dijelaskan :
Fadz kurūnī (oleh karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku) dengan cara melaksanakan ketaatan.
Adzkurkum (niscaya Aku pun Ingat kepada kalian) dengan menganugerahkan surga. Menurut pendapat yang lain, ingatlah kalian kepada-Ku di saat lapang, niscaya Aku pun Ingat kepada kalian di saat susah.
Wasykurūlī (dan bersyukurlah kepada-Ku) atas Nikmat-Ku.
Wa lā takfurūn (dan janganlah kalian kufur), yakni mengabaikan syukur.
Dari penafsiran di atas, zikir kepada Allah dengan mengingat segala kenikmatan yang telah Allah berikan kepada kita. Dimana Allah telah memberikan tubuh yang sehat, organ yang bekerja dengan baik, udara yang tidak harus membeli, air yang melimpah, dan sebagainya. Begitu besar kasih sayang Allah kepada umat manusia dalam melimpahkan kenikmatan, sehingga apabila lautan dijadikan tinta tetap saja hal tersebut tidak mampu menuliskan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita.
Pemberian Allah kepada umat manusia yang begitu besar kadang kala menjadikan manusia itu sendiri lupa untuk selalu bersyukur kepada Allah. Kodrat manusia yang lemah, setidaknya harus selalu disadari oleh setiap manusia sebagai seorang hamba. Orang yang selalu mengingat Allah, sehingga menjadikan orang tersebut bersyukur, bertobat, dll. Allah akan memberikan balasan yang lebih besar lagi baik ketika di dunia maupun di akhirat nanti.
Menurut ajaran Al-Qur’an, hakikat manusia adalah makhluk yang merindukan kehadiran Allah Swt sebagai sumber kebaikan dan kebenaran. Inilah konsep fitrah dalam islam. Manusia memiliki dimensi rohani yang datang dari Allah Swt. Sehingga secara otomatis akan selalu rindu ingin kembali kepada-Nya. Al-Qur’an menegaskan, “ maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.” (QS. Al-Hijr: 15).
Al-Qur’an  menggambarkan bahwa kalimat thoyyibah atau ungkapan zikir itu harus tertanam secara kukuh dalam qalbu seperti sebatang pohon yang akarnya terhujam ke dalam perut bumi. Cabang, ranting, dan dedaunannya menjulan ke langit nan tinggi, sedang buahnya dapat dipetik setiap saat (QS. Ibrahim: 24). Tidak semua zikir dapat menentramkan hati, karena itu, syarat zikir yang menentramkan hati adalah zikir orang yang beriman.sebaliknya, orang yang beriman tidak akan tentram hatinya kecuali dengan zikir kepada Allah.[2] Ketentraman seseorang pada kekayaan, kemasyuran, atau hal-hal duniawi lainnya hanyalah ketentraman yang menipu. Ketentreman yang sesungguhnya adalah hanya diperoleh dengan zikir kepada Allah.

E.     MENJAGA DZIKIR
Zikir merupakan suatu ibadah yang sangat mudah untuk diterapkan dalam kehidupan manusia, akan tetapi zikir merupakan pekerjaan yang sangat sulit untuk dilakukan bagi orang-orang yang sering bermaksiat. Hati yang kotor, jarang atau bahkan tidak pernah mengingat Allah.Hati yang senantiasa digunakan untuk berzikir kepada Allah akan memberikan cahaya keimanan, kekhusyukan terhadap manusia itu sendiri. Seseorang akan menjadi orang yang dicintai Allah dan makhluk ciptaan-Nya, pada raut wajahnya akan terlihat binar keimanan. Peranan hati, sebagaimana sabda Rosulullah SAW, “ hati bagaikan raja, dan hati memiliki bala tentara. Apabila raj itu baik, maka baiklah seluruh bala tentaranya, demikian sebaliknya” (Kanz al-Ummal, hadis ke 1205).[3]
Rosulullah tidak menyunahkan zikir dan doa kepada umatnya kecuali dapat menjadi sebab memperoleh kebahagiaan dengan kebaikan dan selamat dari kejahatan. Barang siapa yang tidak mengamalkannya kemudian setelah itu dia benci atau dihalang-halangi antara ia dan Kekasih, maka hendaknya ia tidak mencela kecuali pada dirinya sendiri.[4] Berzikir atau mengingat akan kematian, kekuasaan Allah terhadap segala apa yang diciptakan Nya, mengingat akan nikmat yang telah Allah berikan kepada kita, dan yang lainnya. Mengingat akan hal seperti di atas akan membuat rongga hati dipenuhi dengan rasa cinta kepada Allah, sehingga seseorang akan menyibukkan diri untuk bersyukur.


















PENUTUP

Kesimpulan

                        Zikir berarti ingat menyebut atau mengingat. Yaitu seseorang yang mengingat Allah sebagai hamba yang mencintai, merindukan, takut,dan lain sebagainya kepada Allah.Seseorang yang senantiasa mengingat Allah, hatinya akan diberi cahaya kesejukan oleh Allah. Ia tidak akan pernah gelisah dengan cobaan hidupnya. Hidupnya selalu bahagia dengan senantiasa menggantungkan hidupnya kepada Allah. Allah mencintai orang-orang yang senantiasa mengingat-Nya. Banyak keutamaan yang akan diberikan Allah kepada orang yang senang berzikir, sehingga seseorang yang ingin selalu menjaga zikirnya, harus terus berlatih dengan mencoba mengingat kekuasaan Allah, azab Allah, kasih sayang Allah,dll.













DAFTAR PUSTAKA
Al-Haddad, Sayyid Abdullah .Trjm. Ahmad Nasirin. 2003. Jalan Para Nabi Menuju Surga.
Bandung: Hikmah
Syukur, M. Amin,dkk. 2012. Terapi Hati. Jakarta: Erlangga
Ismail, Asep Utsman.2000.  Zikir Sufi. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Solihin, M. 2004. Terapi Sufistik. Bandung: CV. Pustaka Setia
Al-kalam. Bandung: PT.Diponegoro.2009


[1]  Dr. M. Solihin, M.Ag.Terapi Sufistik, (Bandung: CV. PUSTAKA SETIA, 2004), hlm 91.
[2]Asep Utsman Ismail, Zikir Sufi,( Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2000).
[3]M. Amin Syukur,dkk. Terapi Hati, (Jakarta: Erlangga, 2012),145.
[4]Sayyid Abdullah al-Haddad,trjm. Ahmad Nasirin, Jalan Para Nabi Menuju Surga, (Bandung:Hikmah, 2003),113.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer