PENGARUH BACAAN AL-QUR’AN
TERHADAP
REFLEKTIFITAS OTAK
MANUSIA dan TERAPI PENYEMBUHAN
BAB
I
PENDAHULUAN
Al-Qur’an yang
merupakan kitab suci umat Islam, kitab yang diturunkan langsung oleh Allah,
tentunya bukan tidak mungkin jika bacaan dari ayat-ayatNya mengandung berbagai
keajaiban baik dalam dunia kedokteran, sosial, biologi, maupun yang lainnya.Banyaknya
penemuan atau pembuktian oleh para ilmuan di dunia penelitaian dari keajaiban
ayat-ayat Al-Qur’an, mendorong penulis untuk menggali lebih dalam mengenai keajaiban ayat-ayat Al-Qur’an khususnya
terhadap reflektifitas otak manusia maupun sebagai terapi penyembuhan.
Penelitian ini disusun
berdasarkan pemikiran mengenai penuturan penulis dan beberapa orang mengenai perasaan
dan pemikiran yang ditemukan ketika mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur’an.
Hal ini awalnya sesuatu yang penulis
anggap biasa sebagaimana ketika penulis mendengarkan musik atau yang
lainnya. akan tetapi, ketika penulis sering mendengarkannya, ada sesuatu yang
berbeda dari lantunan ayat-ayat Al-Qur’an. setiap ada perasaan gelisah, sedih,
bingung, marah, semuanyta bisa hilang setelah mendengar bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Dimana, lantunan ayat-ayat al-Qur’an dirasa member pengaruh terhadap reflektifitas otak manusia, yang
sebelumnya mungkin pada tekanan yang kurang stabil.
Dalam penyajian yang
akan disampaikan di bawah ini, tentunya banyak sekali kekurangan yang mungkin
belum bisa menjawab permasalahan yang ada bagi para pembaca. penelitian ini
dilakukan dengan banyaknya keterbatasan alat dan waktu untuk mampu menyajikan
karya ilmiah dengan baik. sehingga penulis hanya mampu memaparkannya dalam
lingkup yang sempit.
BAB
II
PEMBAHASAN
Perlu
kita sadari bahwa Tuhan telah menciptakan suatu hal yang begitu luar biasa
dalam otak manusia. Otak yang terdiri kurang lebih 100 juta sel saraf, semuanya
tersusun begitu sistematis. Otak
merupakan pusat sistem kerja yang mampu
mengendalikan ataupun mempengaruhi seluruh kerja tubuh manusia, maupun kejiwaan
seseorang.
Di
sebuah klinik di Florida Amerika Serikat,dalam penelitiannya yang panjang
seorang Dr. AL Qadhi mampu membuktikan bahwa dengan mendengar bacaan ayat-ayat al-Qur’an,seorang
muslim baik mereka yang fasih bahasa Arab maupun tidak, mampu merasakan
perubahan fisiologi yang begitu besar. Dibantu dengan peralatan elektronik
terbaru dengan mengukur tekanan darah,
denyut jantung, ketahanan otot, dan ketahanan kulit terhadap aliran elektrik.Dari
hasil pengamatannya,dapat disimpulkan bahwa bacaan al-Qur’an 97% berpengaruh
besar dalam melahirkan ketenangan jiwa dan penyembuhan penyakit.
Kesimpulan
hasil uji coba kemudian lebih diperkuat oleh kajian Muhammad Salim yang diterbitkan
oleh University Boston. Objek terhadap 5 orang yang terdiri dari 3 laki-laki
dan 2 perempuan. kelima orang tersebut tidak tahu bahasa Arab dan mereka pun tidak diberi tahu bahwa yang akan
diperdengarkannya adalah ayat-ayat al-Qur’an. Dalam hal ini terbagi 2 sesi, yaitu
membacakan al-Qur’an dengan tartil dan membacakan bahasa Arab yang bukan dari al-Qur’an.
Selama 210 kali kajian ini dilakukan, responden mendapat ketenangan sampai 65%
ketika mendengar bacaan al-Qur’an, dan 35% ketenangan didapatkan ketika
mendengarkan bacaan bahasa Arab yang bukan al-Qur’an.
Berkaitandenganhalini,
penulismengadakansebuahpembuktiankecil, yaitu dalam
penelitian yang singkat.
5 dari 6 relawan menyatakan bahwa mereka merasakan ketenangan setelah beberapa
menit mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an secara tartil dengan alat
MP3. Penelitian tidak cukup
hanya dengan satu langkahdalampembuktiannya.
Peneliti mencoba menggali berbagai informasi di media
massa.
A. Proses Masuknya Suara Hingga ke Otak
Kita
tahu bahwa suara terbuat dari gelombang atau getaran yang bergerak diudara pada
sekitar 340m/detik. Setiap suara memiliki frekuensinya sendiri, dan manusia
bisa mendengar dari frekuensi 20 per detik hingga frekuensi 20.000 perdetik.Kemudian
gelombang ini menyebar di udara dan kemudian ditangkap oleh telinga, dan
mengirim informasi ke susunan saraf pusat. Setiap bunyi dihasilkan oleh sumber
bunyi atau getaran udara akan diterima oleh telinga. Getaran tersebut diubah
menjadi impals mekanik (di telinga tengah) dan diubah menjadi impals elektrik
(di telinga dalam) dan diteruskan melalui saraf pedengaran menuju ke korteks
pendengaran di otak.

Getaran
suara bacaan al-Qur’an akan ditangkap oleh daun telinga, yang akan dialihkan
kelubang telinga dan mengenai membran timpani ( membran yang ada di dalam
telinga) sehingga membuatnya bergetar. Getaran ini diteruskan ke tulang-tulang
pendengaran yang bertautan antara satu dengan yang lain. Rangsangan fisik tadi
diubah oleh adanya perbedaan ion kalium dan ion natrium menjadi aliran listrik
yang diteruskan melalui saraf N.VII ( vestibulo cokhlearis) menuju ke
otak, tepatnya di area pendengaran.[1]
Area ini bertanggung jawab untuk menganalisis suara yang kompleks, ingatan
jangka pendek, perbandingan nada, menghambat respon motorik yang tidak
diinginkan, pendengaran yang serius, dsb.
Dari
daerah pendengaran sekunder (area interpretasi auditorik), sinyal bacaan alqur’an
akan diteruskan kebagian postero temporalis lobus temporalis otak yang dikendalikan
dengan area wenicke. Di area inilah sinyal dari area asosiasi somatik, visual,
dan auditorik bertemu satu sama lain. Area ini sering disebut dengan berbagai interpretasi umum, area
genoktik, area pengetahuan, area asosiasi tersier. Area wenicke adalah untuk
interpretasi (menafsirkan dan memberi kesan) bahasa yang sangat erat
hubungannya dengan area pendengaran primer dan sekunder.
Setelah
diolah area wenicke, maka melalui berkas yang menghubungkan dengan area
asosiasi prefrontal (pemaknaan peristiwa), sinyal-sinyal di area wenicke
dikirim ke area asosiasi prefrontal. Sementara itu, di samping diantarkan ke korteks auditorik
primer sinyal dari talamus, juga di antarkan ke anigdala (tempat menyimpan
memori emosi ) yang merupakan bagian penting dari sistem limbik (sistem yang
mempengaruhi emosi dan perilaku). Dengan demikian, otak menganalisa
sinyal-sinyal tersebut dan memberikan
perintah-perintahnya ke berbagai bagian tubuh untuk terhubung dengan
sinyal-sinyal tersebut.
Dimana frekuensi gelombang bacaan al-Qur’anmemiliki kemampuan untukmemprogram
ulang sel-sel otak, meningkatkan kemampuan, serta menyeimbangkannya.[2]
B. Terapi suara dengan lantunan ayat-ayat al-Qur’an
Alfred Tomatis, seorang doktor Perancis,
melakukan eksperimen selama lima puluh tahun mengenai indra manusia.Selama
eksperimen, dia menemukan bahwa saraf pendengaran manusia terhubung oleh
seluruh otot tubuh.Sehingga dari hal tersebut, menjadi alasan mengapa
keseimbangan dan fleksibilitas tubuh dan indra penglihatan dapat dipengaruhi
oleh suara. Telinga dalam terhubung dengan seluruh bagian tubuh. Hal tersebut
menjelaskan bahwa frekuensi suara mempengaruhi seluruh tubuh.

Gambar:
Suara
bergerak dari telinga ke otak dan mempengaruhi sel-sel otak; para ilmuwan
baru-baru ini menemukan bahwa suara memiliki kekuatan penyembuh yang ajaib dan
efek yang menakjubkan dari sel-sel otak yang mengembalikan keseimbangan ke
seluruh tubuh! Membaca Al-Quran memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap
sel-sel otak dan mampu mengembalikan keseimbangannya; otak adalah organ yang
mengontrol tubuh dan dari sini perintah-perintah dikirim kepada seluruh organ
tubuh terutama sistem kekebalan tubuh

Gambar:
Virus dan kuman juga bergetar dan sangat terpengaruh oleh getaran suara terutama
suara lantunan ayat-ayat Al-Quran, suara ini menghentikan virus dan kuman dan
pada saat yang sama meningkatkan aktifitas sel-sel sehat dan membangkitkan
program yang terganggu yang berada di dalam untuk menjadi siap melawan virus
dan kuman.

Gambar
: Gambar di atas adalah gambaran nyata sebuah sel darah yang terkena suara dan
mulai mengubah medan elektromagnetik di sekitarnya; suara lantutan ayat suci
Al-Quran mengubah informasi sel ini, membawa dan membuatnya lebih mampu melawan
virus dan kerusakan yang diakibatkan oleh penyakit-penyakit ganas.

Gambar
: Sebuah sel kanker hancur dengan menggunakan frekuensi suara saja!! Itulah
mengapa membaca Al-Quran memiliki dampak hebat dalam perawatan kanker paling
berbahaya sekalipun dan penyakit-penyakit yang menurut medis tidak dapat
disembuhkan!
Kekuatan
penyembuhan Al-Qur’an
1. Dampak dari keselarasan yang sempurna
dalam pengulangan kata dan huruf.
2. Dampak irama yang seimbang terhdap
ayat-ayat al-Qur’an.
3. Dampak dari informasi yang dilakukan
oleh masing-masing ayat al-Qur’an.
4. Sang Pencipta penyakit adalah yang menurunkan.
BAB
III
PENUTUP
Keajaiban al-Qur’an
mampu dibuktikan dengan penelitian yang ilmiah. Dimana bacaan ayat-ayat Al-Qur’an
mampu memberi pengaruh besar terhadap reflektifitas otak manusia, serta mampu
menjadi terapis dari berbagai penyakit yang mungkin masih sulit disembuhkan
oleh dunia kedokteran.hal tersebut disebabkan oleh frekuensi gelombang suara
yang sempurna dari lantunan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an.
DAFTAR
PUSTAKA
Pedak,
mustamir.Mukjizat Terapi Al Qur’an untuk Hidup Sukses, Jakarta:PT. Wahyu
Media.
Komentar
Posting Komentar