perilaku terpuji



Pendahuluan
Peranan akhlak tidak akan pernah berubah, yaitu selalu menjadi hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia, terlebih dalam hidup bersosial. Perilaku seseorang akan sangat memberi pengaruh terhadap respon yang akan orang lain berikan. Perilaku yang baik akan menjadikan seseorang lebih diterima orang lain, lebih dicintai banyak makhluk, dll. Begitu pula jika perilaku tercela pada diri seseoranag, yaitu akan menjadikan pribadi yang krang bisa diterima orang lain, banyak orang yang menjauhinya, dan yang pasti keberadaannya merisaukan yang berada di dekatnya. Kehidupan yang lebih kepada hedonism dan sekularisme di era sekarang ini, menjadikan sebagian besar manusia berpaling dari perilaku terpuji. Perilaku dusta, sombong, rakus, dengki, dan masih banyak lagi menjadi hal yang lebih mendominasi perilaku banyak orang.
Di tengah-tengah keadaan tersebut, tasawuf akhlaki hadir di masyarakat sebagai angin segar yang akan membawa udara dimana hal tersebut seharusnya dijunjung tinggi oleh semua umat islam. Akhlakul karimah atau perilaku terpuji harus menjadi karakter umat islam di manapun ia berada. Seorang muslim sejati akan selalu menjaga kebersihan hati dan batinnya, sehingga hati akan memantulkan keindahan akhlak dari sibghoh (celupan) Allah yang telah mewarnai hati. Di sini akan dipaparkan kembali betapa kita harus mengingat keistimewaan perilaku terpuji dan menerapkan kembali dalam kehidupan sehari-hari sehingga menunjukkan dan memancarkan kembali cahaya islam yang sempat pudar dari dalam diri kita.
Rumusan masalah:
  1. Apa yang dimaksud dengan perilaku terpuji?
  2. Hal apa saja yang tergolong perilaku terpuji?
  3. Bagaimana cara menumbuhkan perilaku terpuji?
  
A.                Perilaku Terpuji
Perilaku terpuji merupakan kata lain dari akhlakul karimah, perilaku yang selalu dijunjung tinggi karena kebaikan yang ditimbulkannya oleh semua agama terlebih agama islam sebagai agama samawi. Perilaku atau akhlak, berasal dari bahasa Arab yaitu isim masdar dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yanag berarti perangai, kelakuan, watak dasar, kebiasaan.[1] Dalam berperilaku terpuji, kita hendaknya bercermin pada Rosulullah saw sebagai tauladan yang telah jelas dan terang perilakunya, keagungannya, dan kebenarannya. Dalam As-Shahihain dikatakan bahwa Hisyam bin Hakim bertanya pada Aisyah tentang akhlak Rasulullah saw, maka Aisyah menjawab,”akhlak beliau adalah alquran”.
Islam sangat menjunjung tinggi akhlak yang baik. Suatu amal kebaikan tidak hanya akan mendatangkan keuntungan di dunia, melainkan Allah akan memberikan kebaikan yang lebih baik di akhirat nanti. Al-Junaid al-Baghdadi berkata,”Sifat yang baik, rendah hati, kedermawanan, dan terutama akhlak yang mulia akan mengantarkan seseorang ke tingkatan spiritual tertinggi”. Selain itu, Rosulullah juga pernah bersabda,” Kamu tidak bisa memperoleh simpati semua orang dengan hartamu tetapi dengan wajah yang menarik (simpati) dan dengan akhlak yang baik. (HR. Abu Ya'la dan Al-Baihaqi)”.
Seorang muslim yang menginginkan kedudukan mulia harus memperhatikan perilakunya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ia harus selalu mempertimbangkan kebaikan dan keburukan terhadap segala tindakan sebelum ia memutuskan suatu keputusan, yaitu sesuai dengan alquran dan sunah Nabi saw bukan karena dorongan nafsu yang menguntungkan pihak pribadi. Akhlak yang baik mencakup memperhatikan kesadaran individual dan semua potensi perubahan pada diri seseorang maupun masyarakat. Dasar adab adalah hikmah: mengenal dan mencintai yang baik dan yang benar, memiliki empati, bersikap bijaksana, dan menghargai ilmu.[2]


B.                 Macam Perilaku Terpuji
a)    Ramah tamah
Seseorang yang hidup dalam bermasyarakat tidak sepatutnya bersikap acuh tak acuh. Sikap ramah terhadap setiap orang sangat penting untuk dilakukan, karena sikap ramah tamah akan memupuk rasa kasih sayang dan kepedulian antar sesama. Banyak hal yang dapat dilakukan seseorang untuk menjadi pribadi yang ramah tamah. Tersenyum, merupakan yang harus diperhatikan ketika kita bertemu dengan siapapun. Menampakkan wajah riang gembira kepada orang lain tidak hanya akan bernilai pahala, melainkan akan menumbuhkan rasa cinta dan ukhluwah yang baik. Jangan menunjukkan kekasaran, kebencian, kesedihan wajah dan suara kita kepada orang yang kita jumpai. ‘Abdullah bin Harits bin Ju’zi ra meriwayatksn bahwa ia tidak pernah melihat orang yang paling sering tersenyum selain Nabi saw. Rosululla saw bersabda,” Jangan meremehkan sedikitpun tentang makruf meskipun hanya menjumpai kawan dengan berwajah ceria.” (HR. Muslim). [3]
b)      Saling menolong
Abu Musa ra meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, “seseorang mukmin dengan mukmin yang lainya seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saluing memperkuat.” Nabi saw memperlihatkannya dengan mangatupkan jari-jarinya kepada belah telapak tangannya dengan erat. (HR. Bukhari dan Muslim). ‘Abdullah bin Umar ra meriwayatkan bahwa nabi saw bersabda, “ seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya. Ia tidak menzalimi ataupun membiarkannya ketika ia butuh pertolongan. Barang siapa mencukupi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi dosa-dosanya di hari pengadilan.”(HR. Bukhari Muslim).

c)      Tawaduk
Tawaduk memiliki dua arti: pertama, tunduk dan menerima kebenaran dari siapapun. Kedua, tawaduk berarti merendahkan sayap kepada manusia, bersikap ramah, dan lembut saat bergaul dengan siapapun. Baik keada pelayan, orang terhormat, orang biasa. Kebalikan dari tawaduk adalah sombong. Jangan merendahkan orang lain ketika berjumpa dengan orang miskin, ataupun yang lainnya. Merasa diri paling mulia, sehingga tidak mau menyapa, tersenyum, dan berbicara kepada mereka merupakan perilaku yang sangat buruk. Nabi saw bersabda, “ siapa yang tawaduk satu derajad kepada Allah, Allah angkat ia sartu derajat hingga mencapai surge tertinggi. Sebaliknya, sipa yang sombong satu derajat kepada Allah, Allah rendahkan ia satu derajat hingga mencapai neraka terbawah.” (HR. Imam Ahmad). Pada saat Nabi saw memasuki Makkah karena kemenangannya, beliau memasuki Makkah dengan menundukkan kepala.[4]
d)     Menghargai waktu
Waktu merupakan harta yang paling berharga yang kita miliki dalam hidup ini. Sering kali Allah bersumpah dengan waktu dan masa. Kehidupan ini berjalan dengan waktu yang telah Allah berikan, supaya manusia mempergunakan dengan sebaik mungkin. Jika orang-orang yang zalim mengisi waktu yang ia miliki dengan kemaksiatan, menyakiti, mendengki orang lain, maka berbeda dengan orang-orang yang memiliki akhlak terpuji, ia akan mengisi waktu yang ia miliki dengan ibadah, menolong sesama, dll. Hasan al-basri mengungkapkan sebuah perkaaan indah yang patut kita ingat. Ia mengatakan bahwa setiap kali mentari terbit, sang hari menyeru, “Wahai manusia, aku hari baru. Aku menyaksikan amalmu. Manfaatkanlah dan berbekallah dariku, sebab jika aku elah pergi, aku tidak akan pernah kembali hingga hari kiamat”.[5]
Allah berfirman kepada orang kafir, “Bukankah kami telah memanjangkan umur kalian dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kalian pemberi peringatan? Maka, rasakanlah (azab Kami) dan tidak bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.”(QS. Al-Fatir: 37).

e)      Optimisme
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan permasalahan yang kadang kala kita berputus asa karenanya. Orang yang menghadapi permasalahan dengan tidak berputus asa dari rahmad Allah, Allah akan memberikannya jalan keluar pada akhirnya. Orang yang selalu optimism selalu menggantungkan permasalahan hanya kepada Allah serta diiringi dengan usaha tentunya. Setiap permasalahan selalu ada mutiara hikmah yang bisa diambil orang-orang yang tidaka berputus asa dari Rahmad Allah. Siapa yang menanam, dialah yang menuai.

C.                 Kemuliaan perilaku terpuji dan keburukan perilaku tercela

Dalam alquran Alla telah menerangkan tentang bagaimana seseorang arus berperilaku terpuji dan kemuliaan apa yang Dia janjikan. Allah berfirman, “(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah Mencintai orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Ali Imran:134).
Allah juga berfirman,” Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri.”(QS. Luqman: 18). Pada ayat-ayat di atas nampaklah bahwa Allah telah menujukkan bagaimana seseorang harus berperilaku mulia.
Dalil-dalil dari hadis Rosulullahpun banyak yang melibatkan akan akhlak mulia, seperti “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al Bazzaar). beliau bersabda,” sesunggunya husn khuluq kan melelehkan kesalahan-kesalahan seperti matahari melelehkan es”.[6]Orang yang baik akhlaknya, akan memiliki banyak teman, atinya tenang, riang, dan senang. Orang yang tinggi budi pekertinya aka mampu merasakan kebahagiaan hidup. Ia tidak akan sombong, ia lebih mementingkan kebahagiaan orang lain dia atas kepentingannya sendiri. Rasulullah juga bersabda,” Rasulullah Saw ditanya tentang sebab-sebab paling banyak yang memasukkan manusia ke surga. Beliau menjawab, "Ketakwaan kepada Allah dan akhlak yang baik." Beliau ditanya lagi, "Apa penyebab banyaknya manusia masuk neraka?" Rasulullah Saw menjawab, "Mulut dan kemaluan." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Mengenai perilaku tercela, Rosulullah bersabda,” Akhlak yang buruk merusak amal seperti cuka merusak madu”. Dan juga beliau bersabda,” Sesungguhnya Allah membenci orang yang berhati kasar (kejam dan keras), sombong, angkuh, bersuara keras di pasar-pasar (tempat umum) pada malam hari serupa bangkai dan pada siang hari serupa keledai, mengetahui urusan-urusan dunia tetapi jahil (bodoh dan tidak mengetahui) urusan akhirat. (HR. Ahmad). Perilaku tercela tidak hanya akan mendatangkan kerugian di dunia, melainkan juga di akhirat. “Kelak akan menimpa umatku penyakit umat-umat terdahulu yaitu penyakit sombong, kufur nikmat dan lupa daratan dalam memperoleh kenikmatan. Mereka berlomba mengumpulkan harta dan bermegah-megahan dengan harta. Mereka terjerumus dalam jurang kesenangan dunia, saling bermusuhan dan saling iri, dengki, dan dendam sehingga mereka melakukan kezaliman (melampaui batas).” (HR. Al Hakim). Sehingga dalam hal ini Rasulullah berpesan,” Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya menghapusnya. Bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang luhur.” (HR. Tirmidzi)
D.                Menuntun Diri Pada Akhlak Terpuji
Pokok pelurusan dan penyucian akhlak dari hal yang menodainya adalah berakhlak baik. Berakhlak yang baik merupakan sifat Rasulullah saw dan merupakan amal yang paling utama pemangku kebenaran. Hal itu merupakan buah mujahadah ahli taqwa dan hasil olah jiwa par ahli ibadah. Sedangkan akhlak yang buruk merupakan racun-racun yang mematikan, petaka yang membinasakan, aib-aib yang mencemarkan, kehinaan-kehinaan yang amat jelas, kebusukan-kebusukan yang menjauhkan dari Rabb semesta alam. Akhlak yang buruk merupakan pintu-pintu terbuka ke neraka. Sedangkan akhlak-akhlak yang bagus merupakan pintu-pintu yang terbuka dari hati ke pada kenikmatan surga-surga.[7] Ada banyak sumber perbuatan-perbuatan terpuji, namun ada empat hal yang harus diperhatikan jika seseorang menginginkan akhlak terpuji tertancap dalam hatinya. Yaitu:
  1. Al-hikmah (kebijaksanaan)
Merupakan keadaan jiwa seseorang yang mampu membedakan suatu kebenaran dan kesalahan. Kebijaksanaan merupakan buah dari keluhuran akal yang telah Allah berikan kepada manusia.
  1. Al-syaja’ah(keberanian)
Adanya keberanian akan melahirkan keramahan, ketegaran, besar hati, tenang, dll. Namun, sikap keberanian yang berlebihan akan menimbulkan sombong, melanggar batas, dll. Begitu pula jika hal tersebut kurang, akan menimbulkan sifat kerdil, rendah diri, pesimis, dll.
  1. Al-iffah
Terkendalinya kekuatan sahwat dengan bimbingan akal dan syariat. Jika sahwat terkendali, akan muncul sifat dermawan, malu, ramah, qanaah, warak, sengan membantu, dll.
  1. Al-‘adl
Kondisi jiwa untuk mengendaklikan gadhab dan sahwat, serta mengarahkannya pada pemenuhan kebijaksanaan.[8]
Itulah pokok-pokok kebagusan akhlak, jika semua terapai secara seimbang, itulah puncak tujuan. Tidak ada yang dapat mencapai kesempurnaan tersebut kecuali Rasulullah saw. Orang-orang setelah beliau hanya bisa mendekati sempurna.


E.             Cara Mengenali Aib-Aib Diri
Jika Allah menghendaki kebaikan pada seseorang, Dia akan menunjukkan aib-aib pada dirinya sehingga orang tersebut segera tersadar dan memperbaikinya. Kebanyakan manusia tidak menyadari akan aib-aibnya sehingga ia dengan ringannya melakukan kemaksiatan, dan perilaku buruk.  Orang-orang yang ingin mengenali aib-aib dirinya bisa menempuh empat cara:
Pertama, duduk di hadapan ustad atau syekh yang bisa melihat aib-aib dirinya, sehingga ia akan di didik untuk mengikuti semu petunjukknya.
Kedua, mencari teman yang jujur dan saleh, sehingga ia akan mengingatkan ketika kita melakukan suatu kesalahan. Ia akan selalu mengajak pada perilaku terpuji, dan melarang pada perilaku tercela.
Ketiga, memanfaatkan lisan orang lain untuk mengoreksi perilaku kita.
Keempat, mempergunakan mata hati untuk mengambil manfaat sekalipun dari orang-orang zalim. Dengan begitu, ia akan melihat keburukannya dan segera membenahi diri. Jika yang ia jumpai adalah kebaikan orang lain, ia akan menirukannya.
F.             Kesimpulan
Perilaku terpuji merupakan kata lain dari akhlakul karimah. Perilaku atau akhlak, berasal dari bahasa Arab yaitu isim masdar dari kata akhlaqa, yukhliqu, ikhlaqan yanag berarti perangai, kelakuan, watak dasar, kebiasaan. Ada banyak perilaku tergolong sebagai perilaku terpuji, seperti ramah tamah, mengahagai waktu, tawadu’, optimis, dan saling tolong menolong. Kesemuanya itu, akan memberikan kemuliaan kepada seseorang yang menajikannya sebagai perilakunya.
Yang termasuk cara seseorang agar mampu berperilaku terpuji adalah dengan Al-hikmah (kebijaksanaan), Al-syaja’ah(keberanian), Al-iffah, dan Al-‘adl. Selain itu, seseorang harus mampu mengenali aib-aib yang berada dalam dirinya, yaitu dengan duduk di hadapan ustad atau syekh, mencari teman yang jujur dan saleh, memanfaatkan lisan orang lain untuk mengoreksi perilaku kita, dan mengambil pelajaran dari semua orang.
Daftar Pustaka
Abdullah, Yatimin M. 2007. Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Amzah.
Bayrak al-Jerrahi,Syekh Tosun,terj.Dr. Zaimul Am. , 2013. Buku Saku Penyejuk Kalbu. Jakarta:Zaman.
Haq, Anwarul. , 2004. Bimbingan Remaja Berakhlak Mulia. Bandung: Marja’.
Jauhari,M. Rabbi Muhammad, terj. Dadang Sobar Ali. 2006.Keistimewaan Akhlak Islam. Bndung: CV. Pustaka Setia.
Khaled, Amr, terj. Fauzi Faisal B. 2010. Buku Peintar Akhlak. Jakarta: Zaman.




[1] M. Rabbi Muhammad Jauhari, terj. Dadang Sobar Ali. Keistimewaan Akhlak Islam,(Bndung: CV. Pustaka Setia, 2006), 85.
[2] Syekh Tosun Bayrak al-Jerrahi,terj.Dr. Zaimul Am. Buku Saku Penyejuk Kalbu,(Jakarta:Zaman, 2013), 144.
[3] Anwarul Haq. Bimbingan Remaja Berakhlak Mulia (Bandung: Marja’, 2004), 16.
[4] Amr Khaled, terj. Fauzi Faisal B. Buku Peintar Akhlak,(Jakarta: Zaman, 2010), 62.
[5] Ibid, 389.
[6] Syekh Yahya ibn Hamzah al-Yamani, terj. Maman Abdurrahman Assegaf. Pelatihan Lengkap Tazkiyatun Nafs,(Jakarta: Zaman, 2012), 52.
[7] Ibid, 43.
[8] Ibid, 46.

Komentar

Postingan Populer