murid
A.
Pendahuluan
Latar belakang
Dalam
melakukan perjalanan menuju kepada Allah, tarekat merupakan salah jalan yang
biasa ditempuh oleh seseorang. Tarekat mampu menjadi jembatan bagi mereka yang
bersungguh-sungguh untuk mensucikan diri, mendekat dan lebih mendekat kepada
Allah. Sebuah perjalanan yang hanya terdiri dari kaum nimoritas di era modern
seperti ini. Ajaran tarekat merupakan bentuk pengkontekstualan ajaran islam
melalui metode para sufi terdahulu. Banyak para tokoh sufi yang begitu tersohor
hingga sekarang, yang mana pada saat itu mereka juga sebagai pendiri beberapa
tarekat. Seprti, Syech Abl Al-Qadir Al-Jaelani, syech baha’ ad-din
an-naqsabandiy, dan masih banyak lagi. Salah satu unsur di dalam tarekat adalah
adanya murid.
Seseorang
yang ingin menempuh jalan menuju Allah dengan tarekat dinamakan seorang murid.
Seorang murid di dalam tarekat tidak hanya harus memperhatikan seorang mursyid,
akan tetapi ia harus sepenuhnya mengikuti apa yang diajarkan sang guru. Jika
banyak murid yang telah lama berguru akan tetapi belum juga bias menjadi orang
yang diharapkan, hal tersebut kadang kala disebabkan oleh kurangnya sang murid
memahami posisinya dalam menuntut ilmu kepada seorang mursyid.
Rumusan masalah:
1. Apa
yang dimaksud dengan murid?
2. Bagaimana
seseorang bias disebut murid?
3. Bagaimana
adab seorang murid kepada mursyid?
B.
Pengertian
Murid
atau salik tarekat, adalah seorang yang disyaratkan harus berjanji setia kepada
dirinya di hadapan mursyid, bahwa ia akan mengamalkan segala bentuk amalan dan
wirid yang telah diajarkan guru kepadanya dengan sungguh-sungguh. Janji setia
itu disebut dengan baiat. Murid di hadapan para sufi bagaikan orang sakit yang
tidak tahu menahu akan penyakitnya di hadapan seorang tabib yang mahir. Maka
tidak pantas baginya bersifat takabur pada mursyid ataupun menyepelekannya.[1]
Di dalam tarekat hubungan seorang murid dengan guru merupakan sesuatu yang
sangat penting untuk diperhatikan, hendaknya tidak sembarangan dalam memilih
seorang guru untuk membimbingnya.seorang murid akan dilatih dan dibimbing oleh
guru spiritual atau biasa disebut dengan mursyid dengan amalan-amalan tertentu
menuju tingkatan yang biasa disebut dengan maqam. Abu Yazid AlBusthami berkata,
”Barang
siapa yang tidak mempunyai seorang guru, setanlah menjadi pembimbingnya.”
C.
Kriteria
Seorang
murid adalah orang yang memiliki antusias dalam menghadap dan mentaati Allah.
Ia akan selalu berusaha untuk memperbaiki dirinya, menjaga dirinya, dan
membersihkan dirinya dari hal-hal yang tidak Allah sukai. Menutup mata dari
selain-Nya sehingga melihat segala peristiwa dengan tetap mengingat-Nya.
Seorang murid tidak sepatutnya memenuhi perutnya dengan menuruti nafsu, tidak
tidur kecuali hanya sedikit, tidak banyak bicara kecuali secukupnya. Seorang
murid selalu memperbanyak diam untuk berzikir, memperbanyak kerja untuk
beramal, suka berkholwat untuk intropeksi diri, bersabar dalam menerima qodo
dan qodar Allah SWT, bersifat tenang, dan malu kepada Allah.
Jika
seorang murid ingin beretika dengan seorang syekh (ingin berguru dan mendapat
bimbingan dari seorang syekh) maka ia mesti memiliki latar belakang keimanan,
kepercayaan, dan keyakinan bahwa tidak ada seorangpun di wilayah tempat
tinggalnya yang lebih utama tingkat spiritualnya daripada syekh, sehingga
seorang murid bias mengunduh manfaat sebear-besarnya dari sang syekh, diterima
oleh Allah, dan dijaga sirrnya dalam berkhidnmad kepada Allah.[2]
Untuk
menuju jalan tasawuf, seorang murid harus melakukan hal –hal tersebut:
1. Ada
persiapan naluri yang khusus dan tidak dibutuhkan dalam ijtihad.
2. Berhubungan
dengan silsilah yang benar. Sesungguhnya keberkahan terjadi dari hubungan
silsilah yang benar dan ini merupakan syarat pokok.
3. Naluri
seorang sufi yang baik diberkahi oleh gurunya dalam melakukan jihad terbesar,
yaitu renungan rohani dalam dzikir, yakni merasakan kehadiran Allah dalam semua
yang dikerjakan dan yang ditinggalkan.[3]
D.
Etika
Seorang Murid Dalam Menempuh Jalan Tarekat
Kewajiban
yang pertama bagi seorang murid adalah meneguhkan keyakinan atau aqidah yang
benar, yaitu aqidah dari para ulama ahlussunnah. Harus memegang teguh Al-Qur’an
dan Hadits dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.menjadikannya sebagai sayap
untuk bisa menuju kepada kedekatan dengan Allah. Seorang murid harus memiliki
komitmen, dan bersungguh-sungguh sampai ia memperoleh hidayah, petunjuk dari
Allah. Allah berfirman, “orang-orang yang
berjihad untuk (mencari keridaan) Kami benar-benar akan Kami tunjukkan kepada
mereka jalan-jalan Kami (al-Ankabut: 69).
Dengan
akidah yang benar seorang murid akan memperoleh ilmu hakikat. Dengan ijtihad ia
akan memperoleh taufik dalam menempuh laku tarekat.[4]
1. Etika
murid kepada syekh
Hubungan
etika salik terhadap syekh, menrurut Ibn ‘Arabiy, hendaklah bersikap bagaikan
mayat yang berada di tangan orang yang memandikannya. Begitulah hal yang dapat
digambarkan akan ketundukan seorang murid kepada seorang guru tarekat. Ali
ra berkata: "Sayalah menjadi hamba sahaya orang yang telah mengajariku
satu huruf. Terserah padanya, saya mau dijual, di merdekakan ataupun tetap
menjadi hambanya."Murid harus menjaga tatakrama agar apa
yang ia peroleh bisa menjadi ilmu yang bermanfaat.
Tidak
mengkhianati mursyidnya dalam urusan apapun. Seorang murid tidak boleh duduk
pada tempat duduk sang guru, tidak boleh memakai barang yang biasa dipakai oleh
gurunya. Apabila sang guru menyuruh melakukan sesuatu terhadap dirinya, maka
seorang murid harus melakukannya dengan ikhlas jika selama yang diperintahkan
tidak bertentangan dengan agama. Murid tidak boleh menentang guru baik
terlahirkan maupun hanya dalam batin. Jika hal tersebut terjadi bagi seorang
murid, maka ia memiliki sifat kurang ajar. Seorang murid harus memperbanyak doa
di bawah ini untuk menghindari sifat-sifat tersebut. Ya Rabb Kami, ampuni Kami dan saudara-saudara Kami yang telah beriman
lebih dulu daripada Kami. Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati
kami terhadap orang-orang beriman. Ya Rabb Kami, sesungguhnya Engkau Maha
Penyantun lagi Maha Penyayang.
Jika
seorang murid melihat sang guru melakukan kesalahan, maka seorang murid tidak
sepatutnya menegur secara langsung, hendaknya ia meminta untuk menjelaskannya
secara tersirat, agar seorang guru tidak merasa tersinggung. Jika ia melihat
suatu aib pada diri sang guru, murid harus menutupi dan mengembalikan tudingan
dpada dirinya sembari menafsiri bahwa sang guru melakukannya dalam bingkai
syariah. Bahkan, jika tidak ia temukan alasan pembenar atas hal tersebut
menurut syariah, ia seyogyanya memintakan ampun dan mendoakannya.
Etika
lain yang harus dipegang oleh seorang murid pencari Allah bersama gurunya:
·
Tidak berbicara
di hadapan guru kecuali terpaksa, dan tidak menunjukkan sedikit pun
keistimewaan dan kelebihan dirinya dai hadapannya.
·
Jika sedang ada
pertanyaan yang diluntarkan kepada syeh, hendaknya murid diam, meskipun
sebenarnya ia bias menjawab.
·
Murid tidak
semestinya mencari-cari alasan meminta keringanan atas apa yang diperintahkan
syekh kepadannya.
·
Seorang murid
pencari Allah tidak seharusnya memisahkan diri dari seorang syekh sampai ia
benar-benar mampu mencapai Tuhan tanpa bimbingan lagi.
2. Etika
bergaul dengan sesama teman
Seorang
murid seharusnya berusaha mendahulukan kepentingan teman di atas kepentingan
dirinya, berusaha memaklumi dan memaafkan (kessalahan dan kekeliruan mereka),
merahasiakan aib-aib teman, menjaga hati para sahabatnya, pantang memendam rasa
dengki kepada teman.
3. Etika
bergaul dengan orang di luar tarekat
Tidak
sepantasnya sang murid merasa lebih baik dari orang yang bukan dari
golongannya, dan meyakini bahwa mereka adalah golongan orang yang selamat.
4. Etika
bergaul dengan orang kaya
Dihadapan
orang-orang kaya seorang murid menjaga harga diri dan tidak tamak terhadap
mereka, tidak mengharap mendapatkan apa yang ada ditangan mereka, memelihara
agama dengan tidak mengharapkan sedekah dari mereka.tidak semestinya ia merasa
lebih utama dari pada mereka. Ia harus menyakini bahwa semua orang lebih baik
dari dirinya, sehingga ia jauh dari sifat takabur, dan tidak mencari-cari
keutamaan fakir untuk dirinya.
5. Etika
bergaul dengan fakir miskin
Terhadap
fakir miskin, seorang murid mesti memetingkan kepentingan orang lain terhadap
orang lain, tidak nmengungkit-ungkit suatu pemberian terhadap mereka. Akan
tetapi hendaknya ia bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kemudahan
kepadanya untuk melakukan kebaikan. Sabar menerima pemaparan kondisi mereka
dengan muka ceria, bukan dengan pandangan jijik maupun perkataan yang membuat
sakit hati si miskin.
6. Etika
makan bersama
Tidak
makan dengan rakus dan lalai hati, sehingga hatinya harus tetap mengingat
Allah. Tidak mendahului mengambil makan dengan orang yang lebih tinggi
derajadnya. Jika tuan rumah memberikan pelayanan, maka ia tidak boleh menolak.
E.
Kesimpulan
Seseorang yang ingin menempuh jalan tarekat
dinamakan murid. Seorang murid harus memilih seorang mursyid atau yang biasa
dikenal dengan guru. Seorang murid harus mempercayakan perjalanannya sepenuhnya
kepada seorang mursyid, seorang mursyid yang akan menuntunnya pada posisi yang
lebih dekat kepada Allah. Ada banyk hal yang harus diperhatikan oleh seorang
murid, etika-etika yang harus diperhatiakan sebagai seorang penempuh jalan
menuju Tuhannya, baik kepada seorang mursyid, diri sendiri, maupun kepada orang
lain.
Daftar Pustaka
Disusun
oleh anak muda Pesantren Lirboyo, 2011, Jejak
Sufi,Kediri: Lirboyo Press.
al-Jailani,
Syekh Abl Qadir, terj. Aguk Irawan, 2012, Buku
Pintar Tasawuf, Jakarta: Zaman,
Halim
M, Abdul, terj. Abdullah Zakiy,A. ,
2002, Tasawuf di Dunia Islam,
Bandung: CV. Pustak Setia.
Team
penulis panitia Mukhtamar ke-10 jam’iyyah Ahli Thariqoh Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah,
2005, Mengenal Thoriqoh, Jakarta:CV.
Aneka Ilmu Semarang.
Az-Zarnuji, Syekh E:\Al-Kitab\Terjemahan
Ta'lim Muta'alim.Htm
[1]
Disusun oleh anak muda
Pesantren Lirboyo, Jejak Sufi,(
Kediri: Lirboyo Press, 2011), 158.
[2]
Syekh Abl Qadir al-Jailani terj. Aguk Irawan, Buku Pintar Tasawuf, (Jakarta: Zaman, 2012), 46.
[3]
Abdul Halim M, terj. Abdullah Zakiy,A.
Tasawuf di Dunia Islam, (Bandung: CV. Pustak Setia, 2002), 138.
[4]
Syekh Abl Qadir al-Jailani terj. Aguk Irawan, Buku Pintar Tasawuf, (Jakarta: Zaman, 2012), 29.
Komentar
Posting Komentar