membangun disiplin masyarakat berbasis karakter
Latar belakang
Karakter
masyarakat merupakan tonggak baik dan buruknya suatu bangsa. Masyarakat yang
memiliki karakter yang baik, akan mampu membangun sebuah peradaban yang besar
sehingga memberi pengaruh terhadap bangsa –bangsa yang lain. Sebagaimana dalam
hal ini pernah terjadi dalam perjalanan sejarah yang telah di contohkan oleh
Nabi Muhammad saw. Kehidupannya mampu memberikan contoh keteladanan bagaimana
membangun sebuah karakter bangsa yang mampu memberi pengaruh dunia. Nabi
Muhammad saw mampu mengubah wajah karakter bangsa Arab pada saat itu dari
realitas masyarakat yang sangat tidak beradab, suka menyembah patung, berjudi,
membunuh, berbuat aniaya, dsb, menjadi masyarakat yang beradab dan bermoral.
Semua hal tersebut dibangun dengan nilai-nilai keteladanan yang indah.
Butuh
perjuangan besar untuk mampu merubah atau membangun masyarakat yang memiliki
karakter yang baik. Terlebih jika hal tersebut harus dilakukan pada kondisi
masyarakat saat ini. Kehidupan bebas yang semakin tak terkendali akibat bertambah
besarnya arus globalisasi, mengakibatkan karakter bangsa Indonesia semakin
tergerus oleh budaya-budaya yang masuk dari bangsa yang lain. Cerminan
masyarakat bangsa Timur, bangsa yang dikenal dengan keberadabannya yang ramah,
sopan, dan peduli, mulai berubah menjadi Negara yang anarkis, korupsi, kriminal,
dan terbuka dalam hal berpakaian. Bagaimana hal ini harus dibenahi agar kembali
menjadi masyarakat yang berdisiplin, yaitu dengan beberapa cara yang mungkin
mampu memberikan kontribusi terhadap karakter masyarakat untuk menjadi lebih
baik.
Rumusan masalah:
1. Seberapa
penting peranan karakter dalam masyarakat?
2. Apa
yang terjadi dalam masyarakat, sehingga butuh pembangunan karakter?
3. Bagaimana
membangun karakter dalam masyarakat?
A.
Pentingnya
Membangun Karakter
Ada
berbagai pengertian mengenai apa itu karakter, karakter sering kali disebut
dengan istilah watak. Watak atau karakter berasal dari kata Yunani “charassein”
berarti barang atau alat untuk menggores, sehingga dalam hal ini kemudian
dimaknai sebagai stempel atau cap, yaitu sifat-sifat yang melekat pada diri
individu(S.M.Dumadi, 1955:11)[1]
. dalam hal tersebut, bahwa karakter selain merupakan bawaan dari lahir juga
merupakan perilaku atau sifat yang lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan. Berbicara
mengenai karakter yang ada di Indonesia, kita perlu mengingat UU Nomor 20 tahun
2003 tentang system pendidikan nasional pasal 3, yaitu “pendidikan nasional
berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa…”[2],
dari hal ini menunjukkan secara tersirat, bahwa karakter sangat memberi
kontribusi yang sangat besar terhadap kehormatan
bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur.
“Kesejahteraan
suatu bangsa bermula dari karakter kuat warganya” kata-kata tersebut diungkapkan
oleh Marcus Tulius Cicero (106-43 SM).[3]
Telah banyak Negara yang membuktikan akan kalimat tersebut. Bangsa-bangsa yan
memiliki karakter yang baik semakin tumbuh pesat menuju kejayaan dan
kesejahteraan. Begitu pula mengenai kehancuran dan semkin melemahnya bangsa
yang hal tersebut tidak jauh dari buruknya moral masyarakat suatu bangsa
tersebut. Arnold Toynbee,”Dari dua puluh satu peradaban dunia yang dapat
dicatat, Sembilan belas hancur bukan karena penakhlukan dar luar, melainkan
karena pembusukan moral di dalamnya”[4]dengan
demikian, karakter merupakan akar yang benar-benar memberi pengaruh besar
terhadap kualitas suatu bangsa. Dengan karakter yang baik, tidak hanya akan
mengundang simpati seseorang untuk lebih dekat dengannya, melainkan akan ada
banyak hal yang dapat diperoleh dengan mutu karakter yang baik.
Menurut
Koetjaraningrat dan Mochtar Lubis, karakter bangsa Indonesia saat ini meremehkan
mutu, tidak percaya pada diri sendiri, tidak disiplin, mengabaikan tanggung
jawab, lemah dalam bekerja, lemah kreatifitas, dan tak punya malu. Hal ini
diakibatkan tentunya oleh banyak factor. Terlebih generasi muda bangsa
Indonesia yang semakin lama menunjukkan kebobrokannya dalam hal karakter. Hal
ini menunjukkan ketidak siapan masyarakat dalam menghadapi persaingan baik
dalam ranah ekonomi, politik, social, maupun budaya.
B.
Makna
Pembangunan Karakter
Untuk
memahami pembangunan karakter dan mengapa hal itu penting, ada suatu kisah yang
menarik. Suatu ketika ada seorang pendidik yang meminta kepala sekolah agar
tidak menggunakan tes apapun untuk menerima siswa. Kepala sekolahpun terkejut
mendengar pernyataan itu.” Kalau penerimaan siswa baru tidak memakai tes masuk
pasti sekolah akan diisi oleh siswa yang bodoh dan nakal lalu bagaimana
kualitas kelulusan kita nanti, demikian yang di utarakan kepala sekolah. Untuk
menjawab hal tersebut sang pendidik memiliki alasan yaitu siswa baru oada
dasarnya tidak ada yang bodoh ataupun nakal, pada dasrnya semua anak memiliki
potensi.
Kemudian
setelah siswa baru di terima tanpa tes, kemudian mereka menjalani penelitian
kecerdasan yang dalam istilah psikologi disebut multiple intelligences research (MIR). Sehingga dengan hal ini akan
dketahui bakat dari masing-masing siswa. Keputusan tersebut akan memudahkan
sang pendidik dalam menanamkan pendidikan karakter sesuai dengan bakat yang
mereka miliki.
Pendidikan adalah
proses pembangunan karakter yang sebenarnya tidak harus menentukan siswa atau
orang yang bagaimana yang harus kita bentuk, akan tetapi pembangunan karakter
adalah proses membentuk karakter dari yang kurang baik menjadi lebih baik.[5]
Sehingga, pembangunan karakter akan menciptakan disiplin masyarakat yang menjadi
ciri khas suatu bangsa yang berbeda dengan bangsa yang lain.
C.
Konflik
Dalam Masyarakat
Adanya
suatu pembangunan disiplin masyarakat, tentunya perlu kita ketahui apa yang
sebenarnya terjadi di dalam masyarakat. Semakin pesatnya suatu masyarakat
memungkinkan semakin banyaknya konflik yang terjadi di dalam hidup bersosial
maupun permasalahan di lingkungan yang diakibatkan oleh tingkah laku manusia. Dalam
ilmu sosiologi, konflik dapat diartikan sebagai benturan atau perseteruan yang
terjadi antara dua pihak atau lebih sebagai akibat adanya perbedaan nilai,
status, kekuasaan, dan keterbatasan sumber daya (Prasodjo dan Tonny, 2003)[6].
Akan tetap dalam pengertian di atas, tidak memungkinkan bahwa permasalahan
lingkunganpun dapat diikutsertakan di dalamnya.
Terlebih
konflik di dalam masyarakat multikultural seperti bangsa Indonesia sangat
mendominasi permasalahan-permasalahan di berbagai bidang. Seperti, ketidak
rukunan umat beragama, tawuran antar suku, pencemaran lingkungan,
penyalahgunaan wewenang oleh para penguasa,dll. Hal ini di sebabkan oleh banyak
factor, seperti perbedaan suku, perbedaan bahasa, perbedaan pandangan,
perbedaan budaya, rendahnya kesadaran diri, kualitas moral masyarakat yang
rendah, maupun yang lainnya. Tanpa adanya moral atau karakter yang baik, mereka
akan sangat sulit bekerja sama, saling menghormati, krhidupan akan banyak di
penuhi oleh tindakan anarkis, ketercurigaan, ketidak teraturan dan jauh dari
kedisiplinan.
Multikulturalisme
adalah ide yang menekankan pentingnya saling penghormatan antara berbagai
kelompok masyarakat yang memiliki kebudayaan berbeda, penghormatan yang
memungkinkan setiap kelompok, termasuk kelompok minoritas, untuk
mengekspresikan kebudayaan mereka tanpa mengalami prasangka buruk dan
permusuhan (DuBois dan Miley,1992). Salah satu penyebab konflik sosial adalah
berasal dari individu itu sendiri, yaitu sifat egois, dengki, sombong, maupun
sifat buruk lainnya. Begitu pula ketidak berhailan pendidikan karakter yang
dilakukan oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan juga menjadi faktor terjadinya
berbagai konflik yang terjadi di dalam masyarakat.
D.
Membangun
Karakter di Era Modern
Membangun
karakter merupakan tanggung jawab bersama semua pihak dan komponen yang berada
dalam masyarakat. Semua masyarakat haruslah bangkit bersatu padu untuk
melakukan gerakan dan tindakan dalam membangun karakter bangsa agar negeri ini
bangkit dari keterpurukan moral dan mampu meraih cita-cita besar sehingga
sejajar dengan bangsa-bangsa yang lain, ikut serta berkontribusi bahkan menjadi
pusat peradaban.
Menurut
pencetus utama pendidik karakter tingkat dunia, yaitu Kilpatrick dan Licona,
pengembangan karakter pada individu akan berhasil sesuai dengan yang di
harapkan jika memerhatikan karakter dasar yang di miliki individu. Dengan
pernyataan lain, karakter dasar di gunakan
sebagai pijakan dalam mengembangkan karakter pada individu. Tanpa adanya
karakter dasar pendidikan karakter tidak akan memiliki tujuan yang pasti.
Beberapa ahli memberikan pandangan yang berbeda-beda mengenai karakter dasar
manusia.
Heritage
Foundation (1992) mengemukakan Sembilan karakter dasar manusia yang bisa di
kembangkan sebagai berikut: (1) Cinta kepada Allah; (2) Tanggung Jawab,
disiplin, mandiri; (3) Jujur; (4) Hormat dan Santun; (5) Kasih sayang, peduli,
dan kerja sama; (6) Percaya diri, kreatif, kerja keras, dan pantang menyerah;
(7) Keadilan dan kepemimpinan; (8) Baik dan Rendah hati; (9) Toleransi, cinta
damai, dan persatuan.[7]
Dalam
menjawab permasalahan moral yang terjadi di dalam masyarakat, agama menjadi hal
yang sangat mempengaruhi bagaimana karakter seseorang terbuntuk. Nilai spiritual
yang dulunya disajikan oleh pendidikan pesantren yang hanya mengkaji ilmu-ilmu
agama, kini mengalami perkembangan yangsangat signifikan. Pesantren tampil
dengan gaya baru, tidak hanya mengkaji ilmu-ilmu agama sebagai pembentuk moral,
tapi juga pengembangan pengetahuan umum dan teknologi. Sehingga, akal
menghasilkan para santri yang tidak hanya memiliki keluhuran budi pekerti,
namun juga menghasilkan santri yang mampu bersaing di zaman modern. Penyajian
materinya pun tidak hanya sebatas cara-cara klasik seperti santri datang duduk
mendengarkan ustadz, mencatat dan pulang, tapi penggunaan LCD proyektor,
praktek lapangan, dan diskusi menjadi bukti bahwa pesantren mampu memberi
kontribusi di era modern ini.
Pendidikan
keluarga, sekolah, dan lingkungan pun dituntut untuk tidak mendidik generasi
muda dengan cara yang mngkin pada zaman sekarang sudah tidak tepat untuk
digunakan lagi. Keluarga terutama. Keluarga merupakan kelompok terkecil yang
bertanggung jawab besar dalam membangun karakter sesseorang. Karakter seorang
anak yang baik ataupun yang buruk, pertama kali dapat kita lihat adalah dari
bagaimana anggota keluarganya dalam mendidik atau memberi keteladanan. Hal ini
karena seorang anak akan menirukan apa yang biasa ia dengar, ia lihat dalam
keluarga tersebut. Sehingga ada ungkapan, “Jika di rumah penuh dengan celaan,
maka anak akan bisa memaki. Jika rumah penuh dengan permusuhan, maka anak
belajar berkelahi. Jika di rumah penuh dengan ketakutan, maka anak akan selalu
gelisah. Jika di rumah penuh dengan olok-olok, maka anak belajar rendah diri.
Jika di rumah penuh dengan iri hati, maka anak belajar kedengkian. Jika di
rumah selalu dipermalukan, maka anak belajar merasa bersalah.
Sikap
peduli terhadap orang lain juga menjadi hal yang akan mempengaruhi pemikiran
orang lain. Sebagaimana dalam sebua ungkapan mengatakan bahwa wilayah berfikir
seseorang akan sangat menentukan wilayah pngakuannya. Karena segalanya bermula
dari pikiran kita. Di saat kita berfikir hanya untuk diri kita sendiri,
tentulah hanya diri kita sendiri pulalah yang akan mengakui diri kita.
Kepedulian harus bersumber dari hati yang hidup, hati yan bersedia memahami
perasaan rang lain dan menanggalkan sejauh-jauh egoisme pribadi.
E.
Pengaruh Pendidikan Karakter Dalam Masyarakat
Hasil
pendidikan akan menghasilkan bagaimana kondisi masyarakat selanjutnya. Selama
beberapa tahun ini, kita melihat bagaimana hasil dari pendidikan yang ada di
Indonesia. Intelektulitas masyarakat Indonesia bisa dikatakan mengalami
kemajuan yang signifikan di banding pada masa silam akan tetapi, kualitas
karakter mengalami penurunan yang tampak dari berbgai polemik yang terjadi saat
ini. Remaja bnayak yang terjerumus dalam pergaulan bebas, narkoba, miras,
ketidak jujuran dalam ujian, korupsi, penyalah gunaan wewenang. Sehingga hal
ini menunjukkan bahwa tingkat penguasaan intelektualitas yang tinggi bukan
menjadi factor utama pembentuk karakter. Tingkat spiritualitas dan kecerdasan
emosi seseorang ternyata lebih memberi pengaruh besar terhadap pengaruh
karakter.[8]
Pendidikan
yang baik tentunya tidak hanya mentransfer ilmu dan keterampilan, tetapi juga
merupakan internalisasi nilai-nilai dasar. Sebagaimana yang disampaikan oleh
Daoud Joesoef, esensi pendidikan adalah memahami, menguasai, dan menerapkan
nilai-nilai yang disepakatibersama sehingga berguna bagi individu, masyarakat,
bangsa dan Negara.[9]
Karakter tidak hanya akan menjadikan manusia berbudi luhur, akan tetapi juga
berperan besar terhadap eksistensi , kemandirian, dan kemerdekaan. Masyarakat
akan hidup dengan harmoni sesuai dengan hokum, budaya, dan nilai-nilai sosial
yang patut untuk di puji. Kesadaran dalam bermasyarakat untuk bertindak sesuai
hukum tanpa adanya paksaan dari berbagai pihak.
F.
Kesimpulan
Masyarakat
merupakan sekumpulan orang yang memiliki pemikiran yang berbeda-beda.
Perberdaan ras, suku, bahasa, dan pola pikr akan menjadikan konflik sosial di
dalam masyarakat. Kondisi moral suatu masyarakatpun menjadi factor yang lebih
berpengaruh terhadap bagaimana keadaan masyarakat tersebut, yaitu tentang
bagaimana mereka dalam bersikap, bertindak, dan dalam mengambil keputusan.
Membangun masyarakat untuk menjadi masyarakat yang memiliki kedisiplinan moral
perlu kerja sama semua pihak, mulai dari keluarga, pedidikan formal, maupun
lingkungan. Sehingga akan menciptakan masyarakat yang bermartabat tinggi.
Daftar Pustaka
Adisusilo ,Sutarjo. 2012. Pembelajaran Nilai
Karakter,Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada.
Saleh Akh. Muwafik. 2012. Membangun Karaker Dengan Hati Nurani, Erlangga.
Saptono.
2011. Dimensi-Dimensi Pendidikan Karakter,Erlangga.
Wiyani,
Novan Ardy. 2013 Membumikan Pendidikan
Karakter Di SD,Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Zubaedi.
2011. Desain Pendidikan Karakter,Jakarta:
Kencana Prenada Media Groub.
Zubaidi.
2005.Pendidikan Berbasis Karakter.
Yogjakarta: Pustaka Pelajar.
[1]
Sutarjo Adisusilo. Pembelajaran Nilai
Karakter,(Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2012), 76
[2].ibid.
[3]
Saptono. Dimensi-Dimensi Pendidikan
Karakter,(Erlangga, 2011), 15.
[4]
Ibid, 16.
[5]
Fatchul Mu’in. Pendidikn Krakter,(Jogjakarta:
Ar-Ruzz Media, 2011), 294
[6]
Edi Suharto. Membangun Masyarakat
Memberdayakan Rakyat,(Bandung: PT. Refika Aditama, 2009), 222.
[7]
Tuhana Taufik A. Mengembangkan Karakter Sukses Anak Di Era Cyber,( Jogjakarta:
Ar-Ruzz, 2011), 21.
[8]
Novan Ardy Wiyani. Membumikan Pendidikan
Karakter Di SD,(Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2013), 73.
[9]
Zubaedi. Desain Pendidikan Karakter,(Jakarta:
Kencana Prenada Media Groub,2011), 279.
Komentar
Posting Komentar