KONSELING PSIKOANALISIS (Disusun untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Psikologi Konseling) Dosen Pengampu : Bu Lutfi Oleh : Izza Isyatul Baroroh Mishbahuddin Abbas Nikmatur Rohmah JURUSAN USHULUDDIN DAN ILMU SOSIAL PROGRAM STUDI AKHLAK TASAWUF SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KEDIRI 2015 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia terlahir dengan fitrah, yang dalam dirinya telah menjadi satu kesatuan antara dimensi fisik (jasad) dan psikis (jiwa).Tugas dari manusia adalah menjaga keseimbangan dari keduanya dengan secara bijak dapat memenuhi kebutuhan kebutuhan material dan juga spiritual secara seimbang. Perhatian mengenai kesehatan psiklogis mutlak dibutuhkan. Maka dari itu, tehnik-tehnik pengobatan psikis-mental semakin berkembang, salah satunya ialah tehnik konseling. Konseling merupakan sarana yang dapat membantu pemecahan masalah yang berkisar pada persoalan-persoalan psikis-mental yang dialami oleh individu yang membutuhkan bantuan untuk itu. Psikoanalisa, sebagai sebuah teori kepribadian dapat dipakai sebagai metode pemecahan persoalan dalam proses konseling. Psikoanalisa, sebagai sebuah teori kepribadian menggunakan cara-cara semisal, membangkitkan pengalaman-pengalaman masa lalu seseorang guna menemukan benang merah suatu peristiwa yang tidak disadari telah melemahkan psikisnya, karena yang pengalaman belum terselesaikan. Maka akan ditemui teknik-teknik seperti; asosiasi bebas, analisa mimpi, Analisis dan Penafsiran Resistensi, juga analisis dan Penafsiran Transferensi. Makalah ringkas ini, dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Konseling. B. Rumusan Masalah 1. Apa Pengertian Psikoanalisis? 2. Bagaimana Konsep Dasar Psikoanalisis? 3. Apa Tujuan Konseling Psikoanalisis? 4. Bagaimana Proses, teknik-teknik konseling Dilakukan? 5. Apa Peran dan Fungdi Konselor? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Psikoanalisis Pendekatan konseling disebut juga sebagai teori konseling yang merupakan dasar bagi suatu praktik konseling. Pendekatan tersebut dirasa penting karena jika dapat difahami dengan berbagai pendekatan, akan mempermudah dalam proses konseling.Dalam pendekatan konseling, psikoanalisis merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan sebagai metode psikoterapi.Psikoanalisis merupakan suatu system dalam psikologi yang berasal dari penemuan Freud seorang dokter psikiatri pada tahun 1896.Ia mengemukakan pandangannya bahwa struktur kejiwaan manusia sebagian besar terdiri dari alam kesadaran. Sedangkan alam kesadaran diumpamakan dengan puncak gunung es yang muncul di tengah laut. Sebagian besar gunung es tersebut diibaratkan dengan alam ketidaksadaran. Dalam praktiknya, yang terpenting dari teori ini adalah bagaimana seorang konselor mampu membuat pikiran konseli yang berada di luar kesadarannya menjadi disadari.Dalam hal ini adalah bagaimana seorang konselor mampu menata interaksi yang terjadi antara id, ego, dan superego. Selanjutnya adalah tentang beberapa istilah yang mendasari pendekatan psikoanalisis, yaitu: a. Pengaruh masa lampau Psikoanalisis terpusat pada pengaruh masa lampau sebagai suatu hal yang menjadi penyebab bagaimana kepribadian seseorang di masa sekarang. b. Ketidak sadaran Menurut Freud, kebanyakan perilaku manusia didorong oleh kekuatan-kekuatan yang terletak di luar pengalaman yang disadari. Sehingga tugas psikoanalisis adalah memunculkan hal-hal yang terdapat di dalam ketidak sadaran tersebut ke daerah yang disadari. c. Kecemasan Perasaan takut yang mendalam sebagai hasil dari bermunculannya perasaan, kenangan, keinginan, dan pengalaman-pengalaman yang terdesak di permukaan kesadaran. d. Pengalihan Dengan menghayati kembali pengalaman masa lampau melalui sebuah pengalihan, konseli akan memperoleh wawasan mengenai bagaimana masa lampaunya merusak fungsi-fungsi perilakunya pada masa ini. e. Lawan pengalihan Lawan pengalihan merupakan respon emosional yang tidak disadari dari konselor kepada konseli, yang dilandasi oleh kebutuhan konselor yang tidak disadari. f. Penolakan Penolakan merupakan upaya untuk mempertahankan diri terhadap kecemasan yang tinggi yang ditakuti konseli apabila materi tak sadar tersebut terungkap. B. Konsep Dasar 1) Struktur kepribadian menurut Freud terdiri atas id, ego, dan super ego. • Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan, karena itu menyediakan dorongan menuju pengejaran keinginan pribadi. • Ego, bekerja dengan melakukan kontak dengan dunia realitas. Sehingga, ego menjadi pengontrol utama kesadaran. • Superego mengatur agar ego bertindak sesuai dengan moral di dalam masyarakat. 2) Dinamika kepribadian a) Insting Suatu pernyataan psikologis dari suatu sumber perangsang somatic (badaniah) yang dibawa sejak lahir. b) Kecemasan Freud mengatakan ada tiga macam kecemasan, yaitu: • Kecemasan realistis, yaitu takut akan bahaya yang datang dari luar, cemas atau takut jenis ini bersumber dari ego. • Kecemasan neorotis, yakni kecemasan yang bersumber dari id, jika id tidak dapat dikendalaikan sehingga menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. • Kecemassan moral, bersumber pada sumber ego, kecemasan ini dinamakan juga kecemasan kata hati. Disebabkan oleh pertentangan moral yang sudah baik dnegan perbuatan-perbuatan yang mungkin menentang norma-norma tersebut. 3) Perkembangan kepribadian individu banyak dipengaruhi oleh pengalaman hidup masa kecil. Sehingga Freud mengatakan bahwa the child id the father of man, artinya bahwa masa kanak-kanak adalah ayah diri manusia. Perkembangan kepribadian individu terjadi melalui respon terhadap sumber-sumber ketegangan yaitu: • Sumber ketegangan dari proses perkembangan fisikologis • Frustasi • Konflik • Ancaman Sebagai akibat dari sumber-sumber ketegangan tersebut, individu akan belajar cara-cara baru untuk menghilangkan ketegangan. Yaitu: a) Identifikasi Seseorang meniru caraatau metode orang lain, serta cara tersebut digunakan untuk menjadi bagian kepribadiaanya agar individu terhindar dari ketegangan. b) Pemindahan obyek terjadi karena insting mendapat rintangan maka dialihkan objek kateksisnya. Bentuk lain dari reaksi emosional individu terhadap kegagalan dan ketegangan adalah mekanisme pertahanan diri. Yang termasuk ke dalam mekanisme ialah: tekanan (represi), proyeksi, pembentukan reaksi, fiksasi, dan regresi. C. Tujuan dan Hubungan dalam Konseling Tujuan dari Psikoananlisis ini adalah untuk membuat hal-hal yang tidak disadari klien menjadi disadari, merekonstruksi kepribadian dasar, membantu klien dalam menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa lalu (kanak-kanak) dengan menembus konflik-konflik yang di represi untuk mencapai kesadaran intelektual.Berikut adalah hubungan antara konselor dan lien. 1. Merupakan proses transference, yaitu klien mengatribusikan terapis pada hal-hal yang belum selesai dari hubungannya dengan significant person. 2. Transference terjadi bila klien menghidupkan kembali konflik masa lalunya, yaitu berhubungan dengan cinta, permusuhan, dan dendam. 3. Terapis menjadi figur orang yang mempunyai arti penting di masa lalunya. 4. Dalam hubungan transferencediharapkan klien memperoleh insight, yaitu mengerti antara kekaburan masa lalu dengan kehidupannya sekarang. Sedangkan menurut Corey (2005), tujuan konseling dari psikoanalisis ini adalah membentuk kembali struktur karakter individual dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari dalam diri klien. Proses terepautik atau konseling difokuskan pada upaya mengalami kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman-pengalaman masa lampau direkonstruksi, dibahas, dianalisis, dan ditafsirkan dengan sasaran merekonstruksi kepribadiian. Terapi Psikoanalisis menekankan dimensi afektif dari upaya menjadikan ketidak sadaran diketahui.Pemahaman dan pengertian intelaktual memiliki arti penting, tetapi perasaan-perasaan dan ingatan-ingatan yang berkaitan dengan pemahaman diri lebih penting lagi. Tujuan konseling psikoanalisi adalah untuk : 1. Meningkatkan kemampuan seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungan eksternal dan internal, dan menumbuhkan potensinya 2. Membentuk kembali struktur kepribadian individu, yait membuat hal yang tidak disadari menjadi disadari 3. Proses terap diutamakan pada mengalami kembali masa kanak-kanak 4. Pengalaman masa lalu dikonstruksi kembali, didiskusikan, dianalisis, dan diinterpretasikan 5. Menyelidik hal-hal yan telah lalu, yaitu untuk mengembangkan pemahaman diri, membantu perubahn kepribadian Secara umum tujuan konseling adalah untuk mengubah perilaku dalam pengerian yang sangat luas. Hal ini berarti bahwa konseling akan menempatkan ego pada tempatnya yaitumemilih secara rasional dan menjadi mediator antara id dan superego. Tujuan dari konseling Psikoanalisis terangkum dalam tiga hal, yaitu (1) bebas dari impuls; (2) memperkuat realitas atas dasar fungsi ego; (3) mengganti superego sebagai realitas kemanusiaan dan bukan sebagai hukuman standart moral. Menurut Prochaska (1984, Latipun, 2006) mengemukakan bahwa dalam konseling psikoanalisis terdapat dua bagian hubungan klien dengan konselor.Kedua huungan tersebut adalah melakukan aliansi (working alliance) dan (transference). Hubungan antara klien dengan konselor dikonseptualkan dalam proses tranferensi yang menjadi inti pendekatan Psikoanalitik. Tranferensi mendorong klien untuk mengalamtkan pada konselor “urusan yang tak selesai”, yang terdapat dalam hubungan klien di masa lampau dengan orang yang berpengaruh. Proses pemberian “treatment” tersebut mencakup rekonstruksi klien dan menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa lampaunya. Setelah terapi berjalan dengan baik, perasaan dan konflik-konflik klien mulai muncul kepermukaan ketidaksadarannya.Klien mundur secara emosional dengan sejumlah perasaan yang timbul seperti konflik-konflik percaya lawan tidak percaya, cinta lawan benci, bergantung lawan mandiri, otonomi lawan malu dan berdosa. Tranferensi terjadi pada saat klien membangkitkan kembali konflik-konflik masa dininya yang menyangkut cinta, seksualitas, kebencian, kecemasan, dan dendamnya, membawa konflik-konflik tersebut menuju masa kini, mengalami kembali, dan menghubungkannya pada konselor. Sehingga fungsi dan peran konselor adalah; (1) membentuk hubungan baik dengan klien, (2) mendengarkan dan menginterpretasikan (3) memperhatikan hal yang resisten, (4) memperhatikan cerita klien, yaitu menemukan hal yang tidak konsisten, (5) mengobservasi, dan (6) mengambil kesimpulan dari analisi mimpi dan asosias bebas. Dari proses tersebut diharapkan klien dapat; (1) mencapai insight, (2) meningkatkan kesadaran, (3) lebih efektif dalam hubungan interpersonal, (4) mengurangi atau menghilangkan kecemasannya secara realistic, dan (5) mengontrol tingkahlakunya. D. Proses, Tahapan dan Tekhnik dalam Konseling Psikoanalisis Tekhnik-tekhnik dalam Konseling Psikoanalisis adalah dengan metode penafsiean (interpretation), analisis mimpi, asosiasi bebas, analisis resistensi, dan analisis transferensi.Kesemua tekhnik tersebut dirancang untuk membantu klien memperoleh jalan masuk kedalam konflik-konflik tak sadar yang mengarah pada pemahaman dan asimilasi material baru oleh ego.Diagnosis dan pengetesan sering digunakan dan pertanyaan-pertanyaan untuk mengembangkan suatu kasus sejarah. Arlow (Latipun,2006) salah seorang penganut Psikoanalisis mengemukakan bahwa konseling dilaksanakan melalui empat tahap, yaitu tahap pembukaan, pengembangan, transferensi, bekerja melalui transferensi dan pemecahan transferensi. Tekhnik spesifik yang digunakan oleh Sigmund Freud dalam psikoterapi adalah asosiasi bebas, interpretasi mimpi, analisis transferensi, dan analisis resistensi. Menurut Corey (2005), tekhnk-tekhnik yang digunakan oleh Freud adalah disesuaikan untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh pemahaman intelektual atas tingkah laku klien, dan untuk memahami makna berbagai gejala. Kemajuan terapeutik berawal dari pembicaraan klien kepada katarsis, kepada pemahaman, kepada penggarapan bahan yang tidak disadari, kearah tujuan-tujuan pemahaman dan pendidikan ulang intelektual dan emosional, yang diharapkan mengarah pada perbaikan kepribadian. a) Asosiasi Bebas Asosiasi bebas adalah suatu metode pemanggilan kembali pengalaman-pengalaman masa lampau dan pelepasan emosi-emosi yang berkaitan dengan situasi-situasi traumatic dimasa lampau, yang dikenal dengan sebutan katarsis. Katarsis hanya meredakan ketegangan sementara atas pengalaman yang menyakitkan dan tidak memainkan peran utama dalam proses “treatment” psikoanalitik kontemporer’ katarsis mendorong klien untuk menyalurkan sejumlah perasaannya yang terpendam , dan karenanya meratakan jalan bagi pencapaian pemahaman. Guna membentuk klien dalam memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif, konselor menafsirkan makna-makna utama dari asosiasi bebas. Tugas konselor adalah mengenali bahan yang direpre dan kurang dalamketidaksadaran. b) Penafsiran Penafsiran adalah prosedur dasar dalam menganalisis asosiasi-asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi, dan transferensi-transfernsi. Prosedur ini terdir dari tindakan-tindakan konselor yang menyatakan, menerangkan, bahkan meengajari klien akan makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran ini adalah untuk mendorong ego mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat proses penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut (Corey,2005). c) Analisis Mimpi Analisis mimpi adalah suatu prosedur yang penting untuk menyingkapkan bahan yang tidak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesakan.Selama tidur, pertahanan-pertahanan melemah, dan perasaan-perasaan yang sirepresi muncul ke permukaan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan istimewa menuju ketidaksadaran” , sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tidak disadari, diungkapkan. Beberapa motifasi sangat tidak bias diterima oleh orang yang bersangkutan sehingga diungkapkan dalam bentuk yang disamarkan atau dismbolkan alih-alih diungkapkan secara terang-terangan dan langsung. d) Analisis dan Penafsiran Resistensi Resistensi, sebuah konsep yang fundamental dalam praktek terapi psikoanalitik, adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tidak disadari. Selama asosiasi bebas atau asosiasi kepada mipi-mimpi, pasien bias menunjukan ketidaksediaan untuk menghubungkan pemikiran-pemikiran, perasaan-perasaan, dan pengalaman-pengalaman tertentu. Freud memandang resistensi sebagai dinamika tak sadar yang digunakan oleh klien sebagai pertahanan terhadap kecemasan yang tidak bias dibiarkan, yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan-dorongan dan perasaan-perasaannya yang direpresi itu. e) Analisis dan Penafsiran Transferensi Analisis trnsferensi adalah tekhnik yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dala terapi.Ia memungkinkan klien mampu memperoleh pemahaman atas sifat dari fiksasi-fiksasi dan deprivasi-deprivasinya, dan menyajikan pemahaman tentang pengaruh nasa lampau terhadap kehidupannya sekarang. Penafsiran hubungan transferensi juga memungkinkan klien mampu menembus: konflik-konflik masa lampau yang tetap dipertahankannya hingga sekarang dan menghambat pertumbuhan emosionalnya. Singkatnya, efek-efek psikopatologis dari hubungan masa dini yang tidak diinginkan, dihambat oleh penggarapan atas konflik emosional yang sama yang tedapat dalam hubungan terapeutik dengan konselor. Tujuan konseling psikoanalitik adalah membentuk kembali stuktur karakter individu dengan membuat yang tidak sadar dalam diri klien. 1. Proses konseling dipusatkan pada usaha menghayati kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak. Pengalaman masa lampau ditata, didiskusikan, dianalisa dan ditafsirkan dengan tujuan untuk merekonstruksi kepribadian. 2. Konseling analitik menkankan dimensi afektif dalam membuat pemahaman ketidak sadaran. 3. Tilikan dan pemahaman intelektual sangat penting, tetapi yang lebih adalah mengasosiasiakan antara perasaan dan ingatan dengan pemahaman diri. 4. Satu karakteristik konseling psikoanalisa adalah bahwa terapi atau analisis bersikap anonym (tak dikenal) dan bertindak sangat sedikit menunjukan perasaan dan pengalamannya, sehinnga dengan demikian klien akan memantulkan perasaannya kepada konselor. Proyeksi klien merupakan bahan terapi yang ditafsirkan dan dianalisa. 5. Konselor harus membangun hubungan kerjasama dengan klien kemudian melakukan serangkaian kegiatan mendengarkan dan menafsirkan. 6. Menata proses terapeutik yang demikian dalam konteks pemahaman struktur kepribadian dan psikodinamika memungkinkan konselor merumuskan masalah klien secara sesungguhnya. Konselor mengajari klien memaknai proses inisehngga klien memperoleh tilikan mengenai masalahnya. 7. Klien harus menyanggupi dirinya sendiri untuk melakukan proses terapi dalam jangka panjang. Setiap pertemuan dapat berlangsung satu jam. 8. Setelah beberapa kali pertemuan kemudian klien melakuakan kegiatan asosiasi bebas. Yaitu klien mengatakan apa saja yang terlintas di fikirannya. E. Peranan dan Fungsi Konselor Dalam Psikoanalisa Fungsi konselor dalam konseling Psikoanalisis sangat dominan. Konselor menentukan proses dan arah konseling. Peran dan fungsi konselor pada pendekatan ini adalah : 1. Konselor sebagai ahli; mendorong transferensi dan ekspolrasi ketidaksadaran, menggunakan interpretasi. 2. Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tidak dikenal klien, dan bertindaksedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Tujuannya agar klien dengan mudah memantulkan perasaan kepada konselor. Pemantulan ini merupakan proyeksi klien yang menjadi bahan analisis bagi konselor. Fungsi utama konselor kelompok dalam konseling kelompok yang berorientasi psikoanalisis adalah membantu konseling secara berangsur-angsur menemukan faktor-faktor penentu yang tidak disadari dari perilakunya pada masa kini. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dalam pendekatan konseling, psikoanalisis merupakan salah satu pendekatan yang dapat digunakan sebagai metode psikoterapi.Psikoanalisis merupakan suatu system dalam psikologi yang berasal dari penemuan Freud seorang dokter psikiatri pada tahun 1896. Tujuan konseling psikoanalisi adalah untuk : 1. Meningkatkan kemampuan seseorang untuk beradaptasi terhadap lingkungan eksternal dan internal, dan menumbuhkan potensinya 2. Membentuk kembali struktur kepribadian individu, yait membuat hal yang tidak disadari menjadi disadari 3. Proses terapi diutamakan pada mengalami kembali masa kanak-kanak 4. Pengalaman masa lalu dikonstruksi kembali, didiskusikan, dianalisis, dan diinterpretasikan 5. Menyelidik hal-hal yan telah lalu, yaitu untuk mengembangkan pemahaman diri, membantu perubahn kepribadian Tekhnik spesifik yang digunakan oleh Sigmund Freud dalam psikoterapi adalah 1. Asosiasi Bebas 2. Penafsiran 3. Analisis Mimpi 4. Analisis dan Penafsiran Resistensi 5. Analisis dan Penafsiran Transferensi DAFTAR PUSTAKA Kurnanto, Edi. Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta , 2013. Pihasniwati, Psikologi Konseling:Upaya Pendekatan Integrasi-Interkoneksi. Yogjakarta:Teras, 2008. S. Wilis, Sofyan. Konseling Individual: Teori Dan Praktik. Bandung: Alfabeta, 2010. Gunarso D. Singgih, Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia, 2000. Nelson Rhicard, Jones. Teori dan Praktik Konseling dan Psikoterapi.Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2011

Komentar

Postingan Populer