Abu Bakar Ash Shidiq
A. Latar
belakang
Kejayaan dan kemajuan di zaman sekarang ini, tidak
pernah terlepas dari bagaimana para pendahulu kita sebagai tokoh sejarah yang
telah memberikan kontribusi besar terhadap peradaban dunia. Tidak hanya
tokoh-tokoh seperti Sokrates, Plato, Aristoteles, dll yang memberikan jasanya
sampai sekarang ini. Perlu kita ingat dan kita sadari bahwa, di dalam Islam
juga tidak sedikit para tokoh yang memberikan kontribusi besar terhadap dunia
Islam khususnya, baik dalam segi ilmu pengetahuan,system pemerintahan, maupun
jasa-jasa yang mampu disakan sampai saat ini.Abu Bakar Ash Siddiq, nama yang
telah berabad-abad silam namun sampai sekarang namanya tidak hanyut oleh waktu.
Beliau adalah salah satu sahabat setia Nabi saw yang dijamin masuk surga. Suatu
anugrah telah datang kepadanya sehingga ia dijadikan manusia yang mendapat
petunjuk untuk mengikuti agama Nabi Muhammad saw di tengah kondisi umat
Jahiliyyah dan melakukan penentangan terhadap Sang Nabi saw.
Posisi yang begitu dekat dnegan Nabi, menjadikannya
orang yang paling pantas untuk menggantikan kepemimpinan umat Islam setelah
Nabi saw meninggal dunia. Dalam kepemimpinannya menjadi seorang khalifah
pertama kali, bukan berarti berjalan dengan baik, banyak permasalah yang harus
diselesaikan dan diluruskan oleh Abu Bakar karena penentangan dari berbagai
pihak yang kurang setuju dengan diangkatnya Abu Bakar menjadi pengganti
Rosulullah saw. Berkat jasanya, Islam menyebar ke berbagai Negara dan Al-Quran
dapat kit abaca dengan mudah dalam bentuk mushaf.
Rumusan
masalah:
1. Siapakah
Abu Bakar Ash Siddiq?
2. Kenapa
Abu Bakar bisa diangkat menjadi khalifah pertama?
3. Apa
yang dilakukan Abu Bakar di dalam kepemiminannya?
4. Kapan
Abu Bakar meninggal dunia?
B. Biografi
Abu Bakar dilahirkan dua tahun eman bulan setelah peristiwa penyerangan ka’bah oleh tentara gajah,tepatnya pada tahun 573 M.[1]Nama
lengkap Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Saad bin Taim
bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi at-Taimi , beliau
lebih dikenal dengan Abu Bakar
Ash-Shidiq bin Abu Quhafah.[2]Ibunya
bernama Ummul KhairSalma binti Sakhr bin
Amir,sepupu Abu Quhafah.Abu Bakar termasuk
laki-laki pertama yang masuk Islam pada masa diangkatnya Nabi Muhammad saw
sebagai rosul,setelah sebelumnya ia adalah seorang pedagang yang kaya raya.
Setelah masuk islam dia begitu cepat dikenal oleh masyarakat Islam karena
keteguhan pendirian, kekuatan iman, kesetiaan, dan sebagainya.
Dia diberi gelar al-Shiddiq, karena senantiasa
mempercayai apa yang dikatakan Nabi, sekalipun hal tersebut tidak dapat
dipikirkan oleh logika. Sebagaimana beliau membenarkan atau mempercayai akan
peristiwa besar yaitu Isra’mi’raj. Kedekatannya dengan Nabi, menjadikannya
orang yang dipercaya Nabi untuk mendampingi perjalanan hijrah ke Madinah. Selain sebagai seorang
sahabat yang setia, beliau juga merupakan mertua Sang Nabi saw, karena putrinya
yang bernama Aisyah dinikahi Nabi saw. Nabi pernah mengutusnya memimpin kaum
muslim melakukan ibadah haji sebagai penggatinya pada tahun ke Sembilan hijriyah. Selain itu, di juga pernah menjadi
pengganti Nabi saw sebagai imam sholat ketika Nabi sakit.
C. Pengangkatan
khalifah
Setelah Nabi Muhammad saw meninggal dunia, pada
tanggal 12 Robiulawal tahun 11 hijriyah (3
Juni 632 M.).[3]umat
Islam mengalami kesenjangan, yaitu kelompok Muhajirin dan Anshor. Mereka saling
bertikai mengenai siapa yang akan mereka jadikan pemimpin pengganti Rosulullah
saw. ,Pertikaian tersebut menyulut amarah kedua belah pihak yang hampir saja
menimbulkan pertumpahan darah.
Dalam polemik tersebut, kaum Anshor berpendapat
bahwa pengganti Nabi adalah dari kaum Anshor, hal ini disebabkan mereka merasa
bahwa golongan Anshor adalah penolong dan pelindung Nabi dan agama Islam.
Sementara kaum Muhajirin tidak pantas menggantikan Nabi karena meskipun mereka
pernah hidup dengan Nabi selama 13 tahun di Makkah, sedikit sekali orang yang
mau menjadi pengikutnya. Kaum Muhajirin tidak mampu berbuat banyak ketika
hinaan, siksaan, dan celaan menghampiri mereka sebelum mereka hijrah ke
Madinah. [4]
Akan tetapi, kaum Muhajirin tidak mau menerima
pernyataan tersebut. Menurut mereka, khalifah haruslah berasal dari golongan
Muhajirin, karena merekalah yang pertama kali menerima ajaran Islam. Muhajirin
juga selalu bersama-sama dengan Nabi dalam menaggung berbagai beban penderitaan
dalam mempertahankan ajaran Islam. Terlebih mayoritas umat Islam Muhajirin
adalah berasal dari keluarga dan kerabat Sang Nabi. Hal itulah yang Umar
katakan, bahwa tidak ada yang lebih pantas selain dari golongan Muhajirin.
Di tengah perdebatan yang kian meruncing, Abu Bakar
datang di antara kaum Muhajirin dan Anshor di Saqifah[5]untuk
memberi jalan keluar. Ia mengatakan bahwa baik golongan Muhajirin maupun Anshor
adalah sama-sama baik, akan tetapi Rosulullah saw pernah bersabda bahwa
“Al-A’immah min Quraisy,” (para pemimpin itu berasal dari golongan Quraisy),
sehingga kempemimpinan sudah selayaknya menjadi milik kaum Muhajirin. Di sisi
lain, Abu Bakar juga mengatakan bahwa Nabi pernah memerintahkan kaum Muhajirin
untuk melindungi kaum Anshor. Dengan argument tersebut, kaum Anshor akhirnya
mau menerima bahwa pengganti Rosulullah bukan berasal dari kaum Anshor,
melainkan dari kaum Muhajirin. Abu bakar mampu mendamaikan mereka dan
menyingkirkan permusuhan untuk kejayaan Islam.
Dalam musyawarah pemilihan khalifah, Abu Bakar
mengajak para hadirin untuk memilih antara Umar bin Khattab atau Abu ‘Ubaidah
ibn Jarrah sebagai khalifah.[6]
Akan tetapi, kemudian Umar mengangkat tangan Abu Bakar dan membaiatnya. Mendengar
kata-kata Umar, semua anggota yang hadir tersadar, bahwa Abu Bakarlah ynag
paling pantas untuk mereka jadikan pengganti Nabi dalam memimpin umat Islam. Di
sinilah awal kepemimpinan Abu Bakar Ash-Siddiq sebagai khalifah pertama dalam
sejarah Islam (11-13 H/632-634 M).[7]
Setelah ia terpilih sebagai khalifh pertama, Abu Bakar
segera pergi ke Masjid Nabawi untuk menyampaikan pidato pertamanya di depan
masyarakat. Dia menyatakan,
“wahai rakyatku! Aku telah terpilih sebagai
wali kalian, meskipun aku tidak lebih dari kalian semua. Jika aku benar,
taatlah kepadaku. Jika ternyata ak salah, luruskanlah aku. Tentu saja kebenaran
adalah kejujuran dan dusta adalah kebohongan. Siapa yang lemah di antara kalian
sesungguhnya kuat di sisiku sampai aku dapat mengembalikan haknya kepadanya,
Ingsya Allah. Siapa yang uat di antara kalian adalah adalah yang teremah
disisiku sampai aku akan mengambil darinya ak orang lain yang diambilnya. Aku
meminta kalian untuk mematuhiku selama aku mematuhi Allah dan Rosul-Nya. Jika
aku mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, kalian bebas untuk tidak mematuhiku.”
Pidato
inilah yang akan menjadi tonggak dalam sejarah politik Islam dan merupakan
pemerintahan demokratis yang pertama.[8]
D. Kepemimpinan
Abu Bakar Ash Siddiq
Setelah diangkatnya ia sebagai khalifah, bukan
berarti hal tersebut lantas membuat Abu Bakar senang dan bertindak
sewenang-wenang. Ketakutannya sebagai pemimpin yang nantinya akan menjadi
tanggung jawab di akhirat, menjadikan Abu Bakar lebih rendah hati, sederhana,
dan berhati-hati dalam setiap mengambil keputusan. Keberlanjutan kepemimpinan Islam
di tangan Abu Bakar, memberikan keuntungan bagi pemerintahan Negara Madinah.
Namun di sisi lain, penolakan orang-orang Arab yang baru masuk Islam
menimbulkan pertentangan.
1. Peperangan
Menumpas Kaum Murtad
Ketika
Rosulullah saw telah wafat, sekelompok orang yang baru masuk Islam memilih
untuk keluar dari agama Islam. Bagi mereka, agama Islam terkait erat dengan
hidupnya Rosulullah saw. Dengan demikian, mereka menganggap bahwa Islam telah
mati berkenaan dengan wafatnya Nabi saw. Penentangan terhadap Negara Madinah
yang dilakukan oleh orang-orang Arab merupakan sebuah realitas betapa sulitnya mereka
dalam menerima kebenaran, sangat sulit untuk tnduk kepada ajaran-ajaran baru.
Gerakan oposisi yng mereka lakukan disebut dengan Riddah.
Dalam gerakan riddah,
digolongkan menjadi :
a. Gerakan
melepas kesetiaan kepada ajaran Islam, dan kembali kepada kepercayaan yang
lama. Gerakan ini secara politik menentang lembaga kekhalifahan. Dalam upaya
mengatasi bangsa Arab yang menentang kekhalifahan Abu Bakar, maka Abu Bakar
mengambil tindakan untuk melakukan orientasi politik berupa konsolidasi, yakni
mempersatukan masyarakat Arab dalam kekuasaaannya.
b. Gerakan
yang menolak untuk membayar zakat. Penolakan mereka dilatar belakangi oleh
kesalah fahaman mereka dalam memahami zakat yang mereka anggap sebagai pajak.
Penyerahan secara dipaksa kepada baitu maal sama artinya dengan menurunkan
martabat mereka. Di sisi lain, disebabkan oleh kealah fahaman mereka dalam
memahami ayat-ayat Al Quran tentang mekanisme pungutan zakat, yang mereka kira
hanya Nabi yang berhak memungut zakat.
Gerakan
yang mengaku mereka adalah nabi, seperti yang dilakukan oleh Musailamah al
Kazzab yang menyatakan bahwa nabi telah mengangkatnya sebagai mitra dalam
kenabian. Abu Bakar melakukan pembersihan terhadap mereka dengan melakukan
tekanan dan ajakan kembali kepada Islam. Ketika dari mereka melakukan
pembangkangan yang ke dua kalinya, maka dilakukanlah peperangan.
Dalam
peperangan melawan kemurtatan atau biasa disebut dengan perang Riddah, Abu
Bakar memilih Khalid bin Walid untuk melawan nabi palsu Tulaiha, Ikrimah dan
Sharabil bin Hasan dikirim untuk melawan Musailamah, dan Zuber dikirim untuk
memerangi Aswad Ansi di Yaman. Akan tetapi, dalam peperangan dengan Musailamah,
Khalid dan Sharabil dikalahkan oleh Musailamah. Akhirnya sang khalifah megirim
Khalid bin Walid, peperangannya menghasilkan kemenangan dengan terbunuhnya
Musailamah dan lebih dari 10.000 orang murtad terbunuh dalam pertempuran
tersebut, sehingga tempat terjadinya peperangan ini dikenal dnegan “Taman
Maut”.[9]
c. Gerakan
dari suku-suku pembangkang yang mengatakan bahwa islam hayalah agama bangsa
Arab, mereka berusaha merih kembali kemerdekaan.[10]
2. Perluasan
wilayah
Ada
dua ekspansiyang dilakukan Abu Bakar yakni ekspansi ke wilayah Persia dibawah
pimpinan khalid bin Walid dengan 10.000 tentara pada tahun 84 M, pasukan Islam
akhirnya dapat menguasai Hirah atau Hira. Daerah yang berada di luar jazirah
Arab yang jatuh ke tangan umat muslim. Setelah jatuhnya kot Hira, Khalid
menyelesaikan penakhlukan Dumatul jandal. Pertempuran penting lainnya terjadi
di Firad, temat bertemunya perbatasan-perbatasan Persia, Siria, dan Jazirah.
Berkumpulnya umat islam di Firad mengakibatkan kecemburuan orang, orang Romawi.
Akhirnya mereka orang-orang Romawi melakukan penentangan terhadap orang-orang
Islam, dan dalam pertempuran ini akhirnya kemenangan berada di dalam genggaman
umat Islam.
Selanjutnya
adalah ekspansi ke wilayah Romawi[11]
atau peperangan dengan kekaisaran Byzantium[12].
Langkah pertama Abu Bakar dalam hal ini adalah dengan mengirim pasukan di bawah
pimpinan Usamah yang ayahnya, Zaid, terbunuh dalam pertempuran Mut’ah. Dia
mengalahkan orang-orang Byzantium di Obna, dekat Mediterania. Namun, setelah
Usamah kembali, orang-orang Byzantium bangkit lagi melawan orang-orang Islam.
Kemudian khalifah mengirim empat orang jendral. Mereka adalah Amar memimpin
devisinya di Palestina, Surahbil di Siria tengah, Yazid di Damaskus, dan
Ubaidah di Wadi Araba. Dalam pertempuran itu Yazid mengalahkan Sergius, seorang
bangsawan Byzantium dari Palestina. Khalid sang pedang Islam, yang pada saat
itu berada di Hira, kembali ke Siria untuk mengambil alih pimpinan di sana. Dia
menetapkan Mutsana bertugas di front Irak.
Dalam perjalanan dia bergabung dengan Surahbil ddan menahlukkan Basrah. Kemudian dia
melanjutkan untuk merebut Damaskus, ibu kota kekaisaran Romawi Timur
(Byzantium). Abu Ubaidah juga membantu mereka.
Telah
dicatat oleh ahli sejarah bangsa Romawi pada waktu itu Romawi berkekuatan 200.000
tentara, sedangkan kaum muslimin tidak lebih dari 46.000 tentara. Jumlah mat
Islam yang terbunuh dalam peperangan sebanyak 3.000 orang. Panji kemenangan
Islam diraih dengan gemilang, hal ini memberikan kemungkinan-kemungkinan yang
besar bagi keberhasilan selanjutnya.
3. Pembukuan
mushaf
Peperangan
yang dilakukan pada masa khalifah, mengakibatkan banyak para penghafal Al-Quran
(qori’) yang meninggal dunia. Hal ini menjadi permasalahan besar bagi umat
Islam. Kondisi tersebut membuat Umar bin Khattab khawatir, sehingga Umar
meminta Abu Bakar untuk melakukan pengumpulan Al-Quran menjadi mushaf. Ketidak
setujuan Abu Bakar terhadap usulan Umar, tidak lantas membuat Umar menyerah. Akhirnya
dengan usaha Umar bin Khattab, Abu Bakar menyetujuinya dan memerintah Zaid ibn
Tsabit untuk mengerakan tugas besar tersebut.
E. Wafatnya
Abu Bakar
Abu Bakar jatuh sakit selama 15 hari dan meninggal
dunia pada tahun 634 M[13],
hal ini terjadi saat perang Yarmuk yang berlangsung selama tiga bulan dengan
kemenagan di tangan kaum muslimin atas bangsa Romawi. Sebelum meniggal dunia,
Abu Bakar telah memikirkan siapa yang akan menyelesaikan masalah penggantian
khalifah, yakni Umar bin Khattab. Hal ini ditakutkan Abu Bakar jika kaum muslim
akan kembali bertikai dan bertengkar mengenai pengganti dirinya sebagai
khalifah. Kemudian ia memaggil Usman dan mendiktekan teks perintah yang
menunjuk Umar sebgai penggantinya. Abu Bakar meninggal dunia pada senin 23
agustus 634 M dengan usia 63 tahun, ia telah menjalankan politik pemerintahan
selama 2 tahun, 3 bulan, dan 11 hari. Dalam kepemimpinannya, Abu Bakar selalu
mengedepankan musyawarah dalam setiap megmabil keputusan. Pemerintahan Abu
Bakar juga dikenal dengan pemerintahan yang sentralistik, yaitu menggabungkan
antara ototritas legislative, eksekutif dan yudikatif.
F. Kesimpulan
Abu
Bakar, seorang sahabat Nabi yang terlahir dua tahun eman bulan setelah
peristiwa penyerangan ka’bah oleh tentara gajah,tepatnya pada tahun 573 M.Nama
lengkap Abu Bakar adalah Abdullah bin Utsman bin Amir bin Ka’ab bin Saad bin Taim
bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib al-Qurasyi at-Taimi , beliau
lebih dikenal dengan Abu Bakar
Ash-Shidiq bin Abu Quhafah. Ibunya bernama
Ummul KhairSalma binti Sakhr bin Amir,sepupu Abu Quhafah. Setelah masuk Islam, ia menjadi
sahabat Nabi yang paling setia, sehingga ia diberi gelar Ash-Siddiq.
Setelah
kematian Rosulullah saw, masyarakat Muhajirin dan Anshor mengalami perselisihan
dalam memilih siapa yang akan menjadikan pengganti Rosulullah, akhirnya Abu
Bakarlah yang lebih dipilih Umar dan kaum muslimin pada saat itu setelah
melakukan pertimbangan. Dalam kepemimpinan Abu Bakar, ia memberikan kontribusi
besar terhadap kejayaan Islam. Berbagai peperangan menumpas kemurtatan dan
perlawanan terhadap kepemimpinannya terus dilakukan
Daftar
Pustaka
Husain Haeka, Muhammad, terj. Ali Audahl. 2003.
Abu Bakar Ash-Sidiq Yang Lembut Hati.Bogor: PT. Pustako
Utera Antar Nusa.
Ide Harun, M. dkk. 2006. Sejarah Tasyri’ Islam.Kediri:FPIIL.
Karya, Soekama, dkk. 1998. Ensiklopedi
Mini Sejarah Dan Kebudayaan Islam.Jakarta: Logos.
Mojhul Khan,Moh. Terj. Wiyanto Suud,dkk. 2010. 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang
Sejarah. Jakarta: Mizan Media.
Rahman, Taufiqur, 2003.
Sejarah Social Politik Masyarakat Islam
Daras Sejarah Peradaban Islam.Surabaya: Pustaka Islamika Press.
Sattar A, Abdus .terj. Imran
Anhar,dkk. 2012.10 Sahabat Yang
Dijjamin Masuk Surga. Jakarta: Darus Sunah Press.
[1]
Moh. Mojhul Khan. Terj. Wiyanto Suud,dkk. 100
Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah.(Jakarta: Mizan Media,
2010),815.
[2]
Abdus Sattar A.terj. Imran Anhar,dkk. 10 Sahabat Yang Dijjamin Masuk Surga.(Jakarta:
Darus Sunah Press, 2012), 3.
[3]
Muhammad Husain Haeka, terj. Ali Audahl. Abu
Bakar Ash-Sidiq Yang Lembut Hati.(Bogor:PT.
Pustako Utera AntarNusa, 2003), 68.
[4] M.
harun Ide, dkk. Sejarah Tasyri’ Islam.(Kediri:FPIIL,2006), 106.
[6]
Ibid, 107.
[7]Soekama
Karya, dkk. Ensiklopedi Mini Sejarah Dan
Kebudayaan Islam.(Jakarta: Logos, 1998), 226.
[8]Moh.
Mojhul Khan, 31.
[9]
Syed Mahmudunnasir. Terj. Adang Affandi.
Islam, Konsepsi Dan Sejarahnya(Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1994), 165.
[10]
Taufiqur Rahman, Sejarah Social Politik
Masyarakat Islam Daras Sejarah Peradaban Islam.(Surabaya: Pustaka Islamika
Press, 2003), 63-64.
[11]
Ibid, 65-66.
[12]
Syed Mahmudunnasir, 168-169.
[13]. Ibid,170.
Komentar
Posting Komentar