WAHDATUL WUJUD



PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ajaran tasawuf semakin lama menjadi pembahasan yang sangat diminati oleh banyak orang.Kehidupan dunia yang semakin bersaing, semakin bebas, dan lain sebagainya.Hal tersebut menyebabkan hati manusia selalu disibukkan oleh permassalahan dunia.Adanya sifat naluri setiap manusia sebagai makhluk beragama, selalu membutuhkan siraman nilai spiritual.Kesejukan dan kedamaian hati merupakan kebutuhan yang ingin diperoleh.Maka, tasawuf merupakan salah satu bidang ilmu yang mampu memberikan pencerahan bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Tuhannya.
Kajian terhadap tasawuf muncul jauh setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, akan tetapi tasawuf sendiri meskipun memiliki banyaknya pemaknaan tapi tetap Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber utamanya. Selain itu, perkembangan tasawuf juga melahirkan pemahaman yang berbeda-beda sesuai orientasi yang ada, seperti tasawuf  sunni dan falsafi.Tasawuf falsafi merupakan tasawuf yang ajaran-ajarannya memadukan antara visi misis dan visi rasional sebagai pengasasnya.
Wahdatul wujud merupakan salah satu konsep yang tergolong pada orientasi tasawuf falsafi.Maka dari itu, kami akan memaparkan pembahasan mengenai konsep wahdatul wujud yang dicetuskan oleh Ibnu ‘Arabi, yang nantinya diharapakan mampu memberikan pemahaman yang benar terhadap konsep wahdatul wujud.
Rumusan Masalah:
1.      Siapa itu Ibn ‘Arabi?
2.      Apa yang dimaksud wahdatul wujud sebagai ajaran yang dibawa oleh Ibn ‘Arabi?
3.      Bagaimana yang dimaksud paham wahdatul wujud?
4.      Bagaimana pandangan para ulama mengenai ajaran Ibn ‘Arabi?

PEMBAHASAN
A.     Pencetus Konsep Wahdatul Wujud
Ibnu ‘Arabi (560-638 H)
Nama lengkap Ibn ‘Arabi adalah Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah Ath-Tha’I Al-Haitami.Ia dilahirkan di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol pada tahun 560 H. ibn ‘Arabi merupakan keturunan dari keluarga berpangkat, hartawan, dan ilmuan. di Sevilla (Spanyol), ia mempelajari Al-Qur’an, hadits, serta fiqih pada sejumlah murid seorang faqih Andalusia terkenal, yaitu Ibn Hazm Az-Zahiri.Setelah berusia 30 tahun, ia mulai berkelana ke berbagai daerah di Andalusia dan yang lainnya. Di antara guru-gurunya, tercatat nama-nama seperti Abu Madyan Al-Ghauts At-Talimsari dan Yasmin Musyaniyah (seorang wali dari kalangan wanita).Keduanya banyak mempengaruhi ajaran-ajaran Ibn ‘Arabi.
Dikabarkan juga bahwa dia pernah ketemu dengan ibn Rusyd. Filosof murni dan tabib istana dynasty barbar dari Alomohad Dikordova. Ia juga telah dikabarkan mengunjungi Al-Mariyyah yang menjadi pusat madrasah Ibn Masarrah seorang sufi falsafi yang cukup berpengaruh di Andalusia.Pengembaraan Ibn ‘Arabi berakhir di Damaskus sampai ia meninggal meninggal dunia 638 H (1240 M), dan dimakamkan di kaki Gunung Qasiyun. Ibnu ‘Arabi adalah penulis, menurut Browne ada 500 judul karya tulis dan 90 judul diaantaranya asli tulisan tangannya yang disimpan di perpustakaan Mesir.[1]

B.     Wahdatul Wujud Sebagai Ajaran Ibn ‘Arabi

Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan sedang al-wujud artinya ada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud.Meskipun demikian, istilah wahdatul Al-wujud yang dipakai untuk menyebut ajaran sentralnya itu, tidaklah berasal dari dia, tetapi berasal dari Ibnu Taimiyah, tokoh yang paling keras dalam mengecam dan mengkritik ajaran sentral tersebut.
Menurut Ibn Taimiyah, wahdatul al-wujud adalah penyamaan Tuhan dengan alam. Menurutnya, orang-orang yang menganut paham tersebut mengatakan bahwa wujud itu sesungguhnya hanya satu dan wajib al-wujud yang dimiliki oleh khaliq adalah juga mumkin al-wujud yang dimiliki oleh makhluk. Selain itu, mereka juga mengatakan bahwa wujud alam sama dengan wujud Tuhan, tidak ada perbedaan.
Menurut Ibn ‘Arabi, wujud semua yang ada ini hanyalah satu dan pada hakikatnya wujud makhluk adalah wujud khaliq pula. Tidak ada perbedaan antara keduanya (khaliq dan makhluk) dari segi hakikat.Kalau ada yang mengira terdapatnya perbedaan wujud khaliq dan makhluk, hal itu dilihat dari sudut pandang pancaindra dan akal.Sementara itu, pancaindra dan akal terbatas kemampuannya dalam menangkap hakikat Dzat Tuhan.Hal ini tersimpul dalam ucapan Ibnu ‘Arabi.
Maha suci Tuhan yang telah menjadikan segala sesuatu dan Dia sendiri adalah hakikat segala sesuatu itu.[2]
Menurut Ibn ‘Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah dan Allah adalah qadim yang disebut Khaliq dengan wujud yang baru disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antara ‘abid (menyentuh) dengan ma’bud (yang disembah).Bahkan, perbedaan itu hanya pada rupa dan ragam dari hakikat yang satu.Untuk pernyataan tersebut, Ibn ‘Arabi mengemukakannya lewat syairnya berikut.

Artinya:
hamba adalah Tuhan, dan Tuhan adalah hamba
Demi syu’ur (perasaan)ku, siapakah yang mukallaf?
Jika engkau katakana hamba, padahal dia (pada hakikatya) Tuhan juga
Atau engkau katakana Tuhan, lalu siapa yang dibebani taklif?[3]

Kalau khalik dan makhluk bersatu dalam wujudnya mengapa telihat dua? Menurut Ibn Arabi tidak memandangnya dari sisi satu, tetapi memandang keduanya bahwa khalik dari sisi satu dan makhluk dari sisi yang lain. Jika mereka memandang dari sisi yang lain mereka pasti mengetahui  hakikat keduanya yakni dzatnya satu yang tak terbilang dan terpisah.[4]Wujud Tuhan juga wujud alam dan wujud Tuhan bersatu dengan wujud alam yang dalam istilah barat disebut panteisme, yang di definisikan oleh Henry C.Theissen. panteisme adalah teori yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang terbatas adalah aspek modifikasi atau bagian dari satu wujud yang kekal dan ada dengan sendirinya.[5]
Ibn ‘Arabi menggunakan kata wujud untuk sesuatu selain Tuhan. Namun, ia mengatakan bahwa wujud yang ada pada alam adalah wujud Tuhan yang dipinjamkan kepadanya. Untuk memperjelas perkataan itu, Ibnu ‘Arabi memberikan contoh bahwa cahaya adalah milik matahari, namun cahaya itu dipinjamkan kepada para penghuni bumi.Apa yang berwujud selain Tuhan tidak akan mempunyai wujud, sandainya Tuhan tidak ada.Jadi, makhluk yang diciptakan tidak mempunyai wujud karena yang mempunyai wujud mutlak hanyalah Tuhan.Dengan demikian, wujud itu hanya satu.
Menurut Ibn ‘Arabi, ketika Allah menciptakan alam ini, Ia juga memberikan sifat-sifat ketuhanan pada segala sesuatu. Dengan kata lain, alam ini merupakan mazhar (penampakan) dari asma dan sifat Allah yang terus menerus. Tanpa alam, sifat dan asma-Nya itu akan kehilangan makna dan senantiasa dalam bentuk dzat yang tinggal dalam ke-mujarrad-an (kesendirian)-Nya yang mutlak tidak dikenal oleh siapapun.[6]Dalam Fushush Al-Hikam, Ibn ‘Arabi menjelaskan hal tersebut dengan ungkapan syai’irnya:
Artinya: “Wajah itu sebenarnya hanya satu, tetapi jika Anda perbanyak cermin, iapun menjadi banyak”
Untuk memperkuat pendiriannya itu, Ibn ‘Arabi merujuk sebuah hadits qudsi:
Aku pada mulanya adalah perbendaharaan yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Ku-ciptakan makhluk.Lalu, dengan mereka itulah mereka mengenal AKU.”
Selanjutnya, Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa firman Allah,                                                                  mengandung pengertian, Tanzihkan-lah Dia”, sedangkan firman-Nya,                                                mengandung pengertian, “Tasybihkan-lah Dia”. Dengan demikian firman Allah tersebut mengandung pengertian “Tashbihkanlah Dia dan jadilah dualistis, dan tanzihkanlah Dia dan jadilah monistis (mengakui adanya satu Tuhan)”.[7]
Dari konsep wahdatul al-wujud ini muncul dua cabang konsep, yaitu konsep al-haqiqoh al-muhammadiyah dan konsep wahdah al-adyan (kesamaan agama).
Menurut Ibn ‘Arabi, Tuhan adalah pencipta alam semesta. Adapun proses penciptaannya adalah sebagai berikut:
1.      Tajalli  Dzat Tuhan dalam bentuk a’yan tsabitah.
2.      Tanazul  Dzat Tuhandari alam Ma’ani kea lam ta’ayyunat (realitas-realitas rohaniyah), yaitu alam arwahyang mujarrad.
3.      Tanazul kepada realitas-realitas Nafsiyah, yaitu alam  nafsiyahberfikir
4.      Tanazul Tuhan dalam bentu ide materi yang bukan materi, yaitu alammitsal atau khayal
5.        Alam materi, yaitu alam indrawi.[8]
Selain itu, Ibn ‘Arabi menjelaskan bahwa terjadinya alam ini tidak dapat dipisahkan dari ajaran al-haqiqoh al-muhammadiyah atau Nur Muhammad.Menurutnya, tahapan-tahapan kejadian proses penciptaan alam dan hubungannya dengan kedua ajaran itu dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.      Wujud Tuhan sebagai wujud mutlak, yaitu Dzat yang mandiri dan tidak berhajad pada apapun.
2.      Wujud al-haqiqoh al-muhammadiyah sebagai emanasi (pelimpahan) pertama dari wujud Tuhan kemudian muncullah segala yang wujud dengan proses tahapan-tahapannya sebagaimana dikemukakan di atas.
Dengan demikian, Ibn ‘Arabi menolak ajaran yang mengatakan bahwa alam semesta ini diciptakan dari tiada (cretio ex nihilo). Ia mengatakan Nur Muhammad itu qadim dan merupakan sumber emanasi dengan berbagai kesempurnaan ilmiah dan amaliyah yang terealisasikan pada diri para nabi semenjak Adam sampai Muhammad dan terealisasikan  dari Muhammad pada diri pengikutnya dari kalangan wali dan para insan kamil (manusia sempurna).
Adapun yang berkenaan dengan konsepnya wahdah al-adyan (kesamaan agama), Ibn ‘Arabi memndang bahwa sumber agama adalah satu, yaitu hakikat Muhammadiyah.Konsekwensinya, semua agama adalah tunggal dan semua itu kepunyaan Allah.Seorang yang benar-benar arif adalah orang yang menyembah Allah dalam setiap bidang kehidupannya. Dengan kata lain, dapat dinyatakan bahwa ibadah yang benar hendaknya seorang abid memandang semua sebagai bagian dari ruang lingkup realitas dzat Tuhan yang Tunggal.

C.     Pandangan Ulama’ Terhadap Tasawuf Falsafi (Wahdatul Wujud, Hulul, Dan Ittihad)
Dalam tinjauan al-Hafiz al-Suyuti, keyakinan hulul, ittihad dan wahdatul wujud mengikut sejarah awal mulanya yang berasal dari pada kaum Nasrani. Mereka meyakini bahwa Tuhan menyatu dengan Nabi Isa.Dalam pendapat lainnya, Tuhan menyatu dengan Nabi Isa sekaligus dengan ibunya, Maryam.Hulul dan Wahdatul Wujudsama sekali bukan berasal dari ajaran Islam. Kemudian apabila ada beberapa orang yang mengaku sufi meyakini dua akidah tersebut atau salah satu daripada keduanya, jelas ia seorang sufi palsu. Para ulama, baik ulama Salaf dan Khalaf dan kaum sufi sejati hingga sekarang telah sepakat dan terus memerangi dua akidah tersebut.[9]
Imam al-Hafiz Jalaluddin al-Sayuthi menilai seorang yang berkeyakinan hulul atau wahdatul wujud jauh lebih buruk dari pada keyakinan kaum Nasrani kerana dalam keyakinan Nasrani Tuhan hanya menyatu dengan Nabi Isa atau dengan Maryam sekaligus,[10] tetapi keyakinan hulul dan wahdatul wujud adalah Tuhan menyatu dengan manusia tertentu, atau menyatu dengan setiap komponen dari pada alam ini.
Demikian juga dalam penilaian Imam al-Ghazali jauh lebih dahulu sebelum al-Sayuthi.Beliau sudah membahas secara terperinci tentang kesesatan dua akidah ini.Dalam pandangan beliau, teori yang diyakini kaum Nasrani bahwa al-lahut (Tuhan) menyatu dengan al-Masut (makhluk), yang kemudian di ambil oleh paham hulul dan ittihad adalah kesesatan dan kekufuran.Antara karya al-Ghazali yang cukup komprehensif dalam penjelasan kesesatan paham hulul dan ittihad ialah al-Mumqidh Min al-Dalal dan al-Maqasad al-Asma Fi Syarh Asma’ Allah al-Husna. Dalam dua buah buku ini beliau telah menyerang habis-habisan paham-paham kaum sufi palsu. Termasuk juga dalam karya terulungnya, Ihya’ Ulumuddin.
Imam al-Haramain dalam kitab al-Irsyad juga menjelaskan bahwa keyakinan ittihad berasal daripada kaum Nasrani yang berpendapat bahwa ittihad terjadi hanya pada Nabi Isa, tidak pada nabi-nabi yang lain. Kemudian tentang teori hulul dan ittihad ini kaum Nasrani sendiri berbeda pendapat, sebagian dari mereka menyatakan bahwa yang menyatu dengan tubuh Nabi Isa ialah sifat-sifat ketuhanan. Pendapat yang lain mengatakan bahwa Zat Tuhan yang menyatu yaitu dengan melebur pada tubuh Nabi Isa laksana air yang bercampur dengan susu. Selain itu ada pendapat-pendapat mereka yang lain. Semua pendapat mereka tersebut secara kasarnya memiliki pemahaman yang sama, yaitu pengertian kesatuan (hulul dan ittihad), dan semua paham-paham tersebut diyakini secara pasti oleh para ulama islam sebagai kesesatan.
Imam Fakh al-Razi dalam kitab al-Mahsal Fi Usuluddin, menulis seperti yang berikut :
Sang Pencipta (Allah) tidak menyatu dengan yang lain, kerana apabila ada sesuatu bersatu dengan sesuatu yang lain, maka bereti sesuatu tersebut menjadi dua, bukan lagi satu. Lalu jika kedua-duanya tidak ada atau menjadi hilang (ma’dum) maka kedua-duanya tidak bersatu. Demikian juga apabila salah satunya tidak ada (ma’dum) dan satu yang lainnya ada (maujud), maka kedua-duanya tidak bersatu, kerana yang ma’dum tidak mungkin bersatu dengan yang maujud
Qadi Ayyad ibn Musa dalam kitab Ash-shifa bi ta’rif huquq al-Mustafa menyatakan seluruh orang islam telah sepakat dalam meyakini kesesatan akidah hulul dan kekufuran yang meyakini bahwa Allah menyatu dengan tubuh manusia. Keyakinan-keyakinan seperti ini, dalam tinjauan Qadi Iyad tidak lain hanyalah dari pada orang sufi palsu, kaum Batiniyah, Qaramitah dan kaum Nasrani.Dalam kitab tersebut Qadi Iyad menulis :
Seorang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, atau berkeyakinan Allah ialah benda, maka dia tidak mengenal Allah (kafir) seperti orang Yahudi. Demikian juga telah menjadi kafir orang yang berkeyakinan bahawa Allah menyatu dengan makhluk-makhluk-Nya (hulul), atau bahawa Allah berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain seperti kaum Nasrani
Imam Taqiyuddin Abu Bakr al-Hisni mengatakan kekufuran seorang yang berkeyakinan hulul dan wahdatul wujud lebih buruk dari pada kekufuran orang Yahudi dan Nasrani.Kaum Yahudi menyekutukan Allah dengan Uzair sebagai anak-Nya.Kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan mengatakan Isa dan Maryam sebagai Tuhan Anak dan Tuhan Ibu, yang oleh mereka disebut dengan doktrin triniti.Sementara pengikut akidah hulul dan wahdah al-wujud meyakini Allah menyatu dengan zat-zat makhluk-Nya.Artinya dibandingkan dengan yahudi dan Nasrani, pemeluk akidah hulul dan wahdatul wujud memiliki lebih banyak tuhan, bukan hanya satu atau dua saja, kerana mereka menganggap bahwa setiap komponen dari pada alam ini merupakan bagian dari pada Zat Allah. Imam al-Hisni menyatakan siapa pun yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk memerangi akidah hulul dan akidah wahdatul wujud maka ia memiliki kewajiban untuk mengingkarinya dan menjauhkan orang islam dari kesesatan dua akidah tersebut.
Sebuah wasiat yang disampaikan oleh Syekh Ahmad al-Rifa’i, kepada para muridnya adalah:
“Majelis kita ini suatu masa akan berakhir, maka yang hadir di sini hendaklah menyampaikan kepada yang tidak bahwa siapapun yang membuat bida’ah di jalan ini, merintis sesuatu yang baru yang menyalahi ajaran agama, berkata-kata dengan wahdatul wujud, berdusta dengan keangkuhannya kepada para makhluk Allah, melucu dengan kalimat-kalimat yang tidak dipahaminya yang dikutip dari kaum sufi, merasa senang dengan kedustaannya, berkhalwat dengan perempuan asing tanpa hajat yang dibenarkan syariat, tertuju pandangannya kepada kehormatan kaum muslimin dan harta-harta mereka, membuat permusuhan antara para wali Allah, membenci kaum muslimin tanpa alasan yang dibenarkan syariat, menolong orang yang zalim, menghinakan orang yang dizalimi, mendustakan orang yang jujur, membenarkan orang yang dusta, berperilaku dan berkata-kata seperti orang bodoh maka saya terbebas (tiada hubungan) dari orang seperti itu di dunia dan akhirat.” Aliran-aliran tasawuf yang salah satunya adalah wahdatul wujud, merupakan paham yang dianggap menyimpang oleh sebagian besar kaum muslimin, karena bertentangan dengan paham Ahl As-Sunnah wa Al-Jama’ah dan dapat membahayakan akidah kaum awam.[11]

KESIMPULAN
            Muhammad bin ‘Ali bin Ahmad bin ‘Abdullah Ath-Tha’I Al-Haitami adalah nama panjang dari Ibn ‘Arabi. Ia dilahirkan di Murcia, Andalusia Tenggara, Spanyol pada tahun 560 H. ia adalah seorang orang yang mengenalkan ajaran wahdatul wujud. Wahdat al-wujud adalah ungkapan yang terdiri dari dua kata yaitu wahdat dan al-wujud. Wahdat artinya sendiri, tunggal atau kesatuan sedang al-wujud artinyaada. Dengan demikian wahdat al-wujud berarti kesatuan wujud.Menurut Ibn ‘Arabi, wujud alam pada hakikatnya adalah wujud Allah dan Allah adalah qadim yang disebut Khaliq dengan wujud yang baru disebut makhluk. Tidak ada perbedaan antara ‘abid (menyentuh) dengan ma’bud (yang disembah).Bahkan, perbedaan itu hanya pada rupa dan ragam dari hakikat yang satu.
Pendapat dari beberapa ulama, bahwa Wahdatul Wujud sama sekali bukan berasal dari ajaran Islam.Imam Taqiyuddin Abu Bakr al-Hisni mengatakan kekufuran seorang yang berkeyakinan hulul dan wahdatul wujud lebih buruk dari pada kekufuran orang Yahudi dan Nasrani.Kaum Yahudi menyekutukan Allah dengan Uzair sebagai anak-Nya.Kaum Nasrani menyekutukan Allah dengan mengatakan Isa dan Maryam sebagai Tuhan Anak dan Tuhan Ibu, yang oleh mereka disebut dengan doktrin triniti.Sementara pengikut akidah hulul dan wahdah al-wujud meyakini Allah menyatu dengan zat-zat makhluk-Nya.Artinya dibandingkan dengan yahudi dan Nasrani, pemeluk akidah hulul dan wahdatul wujud memiliki lebih banyak tuhan, bukan hanya satu atau dua saja, kerana mereka menganggap bahwa setiap komponen dari pada alam ini merupakan bagian dari pada Zat Allah.

DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Rosihon.dkk. 2000. Ilmu Tasawuf. Bandung: CV. Pustaka Setia
Agil S, Said. 2004. Mengurai Tasawuf Irfan Dan Kebatinan. Jakarta: PT. Lentera Basritama
Shoihin, M. dkk. 2011. Ilmu Tasawuf. Bandung: CV. Pustaka Setia
Amin, Samsul M. 2012. Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah




[1] Samsul Munir Amin, Ilmu Tasawuf. (Jakarta: Amzah, 2012), 278.
2. ibn ‘Arabi, Al-Futuhat Al-Makkiyah, jilid II, Dar Shadir, Beirut, t.t., 604.
[3] Ibn ‘Arabi, Fushush Al-Hikam wa At-Ta’liqat ‘alaih, Ed. Abu ‘Ala ‘Afifi, Dar al-Fikt, Beirut, t.t. 92.
[4]Muhammad Musthafa, Ilmu,al-hayat,al-ruhiyyah,al-islam,al-haiat,al-musriyyah,al-ammabi,al-kitab. Mesir , 1984, hal 182
[5]Kautsar Azhari Noer, al-arabi nahdat al-wujud dalam perdebatan, Paramadina 1995, hal 162.
[6] M. Sholihin, Ilmu Tasawuf. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2008), 180.
[7]Ibid, 181.
[8] Rosihun Anwar, dkk. Ilmu Tasawuf. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000), 152.
[9]al-Sayuthi. “Al-Hawi li Al-Fatawa.” Juz II. hal 139. Pembahasan lebih luas tentang keyakinan kaum Nasrani dalam teori Hulul dan Ittihad lihat di Al-Syahrastani. “al-Milal wa al-Nihal.” Beirut, Lebanon : Dar al-Fikr, 1997, hal. 178-183
[10] Yang mereka sebut dengan “Doktrin Triniti”
[11] Samsul Munir Amin, 395.

Komentar

Postingan Populer